Buaya muara, Predator Perairan Tertinggi dan Reptil Terbesar Di Dunia

  • Share
Buaya muara, Predator Perairan Tertinggi dan Reptil Terbesar Di Dunia
Buaya muara (Crocodylus porosus). Foto : Bernard Dupont

Gardaanimalia.com – Buaya muara (Crocodylus porosus) banyak ditemukan di perairan wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera sampai ke Papua. Buaya ini hidup di kawasan estuari, muara, kawasan mangrove, rawa-rawa juga sungai. Buaya ini memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas (kandungan garam) dalam air, sehingga tak jarang buaya ini ditemukan jauh dari daratan. Maka dari itu, buaya ini juga disebut buaya air garam (saltwater crocodile), karena kemampuannya untuk hidup di habitat air asin.

Buaya berperan penting dalam suatu ekosistem perairan sungai, karena sifatnya yang merupakan karnivor (pemakan daging). Dengan ukurannya yang dapat mencapai 6 – 7 meter saat dewasa, buaya menjadi predator tingkat tertinggi dalam rantai makanan ekosistem sungai. Buaya muara juga merupakan reptil terbesar didunia saat ini.

Ekosistem perairan menyediakan makanan bagi buaya untuk bertahan hidup. Saat muda, buaya memakan mangsa berukuran kecil seperti serangga, amfibi, ikan kecil, reptil dan udang. Sementara saat dewasa, buaya memakan mangsa besar seperti ikan, monyet, rusa, kerbau, kepiting, babi hingga ular

Dalam habitatnya, buaya cukup toleransi terhadap keberadaan buaya dan makhluk lainnya. Mereka biasanya berbagi wilayah teritorial untuk hidup berdampingan. Tetapi saat musim kawin, buaya akan membentuk sarang dalam teritorinya. Saat masa ini, buaya muara cenderung buas pada setiap makhluk hidup yang mendekat.

Buaya jenis ini merupakan salah satu reptil yang banyak diperjualbelikan di pasar ilegal satwa. Padahal satwa ini merupakan satu diantara satwa yang dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.92 tahun 2018.

Memiliki buaya sebagai binatang peliharaan bukan pilihan yang tepat, terutama karena buaya memiliki sifat yang buas. Di tahun 2018 saja, sudah banyak korban jiwa dari kebuasan buaya peliharaan.  Selain sifatnya yang buas, buaya juga memiliki ukuran yang besar dan waktu hidup yang cukup lama, yaitu sekitar 40 tahun.

BACA JUGA:
Nyasar ke Pinggir Pantai, Seekor Buaya Dievakuasi BKSDA Lampung

Pada tahun 2018 tercatat setidaknya ada 3 kejadian dimana manusia tewas diterkam oleh buaya peliharaan. Kejadian paling ramai terjadi di Sorong, Papua, ketika seorang warga diterkam buaya penangkaran saat sedang mencari rumput sehingga mendorong warga balas membunuh 292 ekor buaya lainnya.

Buaya muara, Predator Perairan Tertinggi dan Reptil Terbesar Di Dunia
Warga membantai sebanyak 292 ekor buaya di Sorong, Papua karena tewasnya seorang warga yang diterkam buaya saat sedang mencari rumput.

 Terancamnya buaya muara di Indonesia

Buaya muara banyak dimanfaatkan masyarakat di Indonesia sejak dahulu. Di berbagai daerah buaya dibunuh untuk dikonsumsi, dan untuk diambil kulitnya. Masyarakat pedalaman Sumatera, Kalimantan, dan Papua menangkap buaya di alam untuk dijual kulitnya kepada para pengumpul kulit buaya di perkotaan karena memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah menjadi eksportir terbesar kulit buaya muara ke beberapa negara konsumen seperti Singapura, Perancis, Hongkong dan Jepang. Selain dijual untuk kulitnya, sebagian masyarakat juga menjual anakan buaya untuk dijadikan sebagai peliharaan.

Perburuan buaya besar-besaran mengancam kehidupan buaya muara di alam. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) mengeluarkan peraturan yang melarang perburuan buaya liar serta mengharuskan dibuatnya penangkaran buaya (Crocodile farming) untuk pemanfaatan buaya muara secara legal.

Tetapi pada prakteknya, tetap saja perdagangan ilegal buaya muara di pasar gelap berjalan selama kurangnya pengawasan dari pemerintah. Masih banyak penjualan buaya muara sebagai peliharaan, untuk diambil kulitnya ataupun untuk konsumsi masyarakat.

Selain perburuan buaya, konversi habitat buaya menjadi lahan pembangunan juga mengancam kehidupan buaya. Saat ini daerah sungai, muara dan kawasan mangrove sudah banyak dirombak untuk kepentingan manusia. Semakin kecilnya habitat buaya juga menyebabkan semakin seringnya konflik antara manusia dan buaya.

Sifat buaya yang buas tak pernah damai dengan kehidupan manusia menambah daftar faktor penyebab terancamnya buaya di alam.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments