Berita  

Gajah Sumatera Lagi-Lagi Mati di Jambi

Ilustrasi seekor bayi gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) di ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi, Kamis (26/8/2021). | Foto: Irma Tambunan/Kompas
Ilustrasi seekor bayi gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) di ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi, Kamis (26/8/2021). | Foto: Irma Tambunan/Kompas

Gardaanimalia.com – Gajah sumatera kembali ditemukan mati di Jambi. Kali ini, bangkai satwa tergeletak di kebun warga di Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo.

Hingga saat ini, ihwal kematian satwa dilindungi tersebut masih dalam penelusuran tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Plt. Kepala BKSDA Jambi, Teguh Sriyanto, mengatakan bahwa pihaknya telah turun ke lokasi kejadian. Tim melakukan bedah bangkai untuk mengetahui penyebab kematian satwa.

“Tim kami langsung ke sana, kemarin, untuk mengadakan nekropsi (bedah bangkai),” ujarnya, pada Rabu (31/8).

Teguh menjelaskan, saat ini pihaknya masih mengumpulkan data dan petunjuk lain terkait kematian gajah sumatera berjenis kelamin jantan tersebut.

Ia belum dapat memastikan penyebab kematian satwa, apakah karena konflik dengan manusia atau bukan. “Kami masih mengumpulkan data di lapangan.”

Mula Kematian Gajah

Pertama kali, informasi kematian satwa liar itu diperoleh petugas Pusat Informasi dan Konservasi Gajah (PIKG) di Tebo, dari warga setempat.

Menurut keterangan yang diterima, lokasi kematian gajah yang diperkirakan masih remaja itu berada di kebun karet milik petani lokal bernama Lidar.

Dua hari sebelumnya, kata Lidar, ia sempat melihat satwa endemik Sumatera tersebut dalam posisi berdiri dan tidak bergerak.

Mengetahui hal itu, Lidar pun langsung pulang ke rumah. Kemudian, pada Minggu (28/8), Lidar menyuruh anaknya untuk mengambil buah kabau di kebun.

Saat itulah anaknya melihat ada seekor gajah yang mati. Usai dihubungi, petugas PIKG melakukan pengecekan lokasi pada keesokan harinya.

Kepala PIKG, Hefa Edison mengatakan, bahwa petugas menemukan satu ekor gajah sumatera mati yang diperkirakan berjenis kelamin jantan di lokasi kejadian.

“Usianya diperkirakan masih 4 hingga 5 tahun,” jelas Hefa.

BACA JUGA:
Penyelundupan Ribuan Belangkas Dilindungi Berhasil Digagalkan

Secara kasat mata, tim tidak menemukan adanya bekas luka benda tajam ataupun lebam pada bagian tubuh satwa dilindungi tersebut.

“Juga tidak ada bekas luka akibat tembakan,” lanjutnya menjelaskan.

Hefa mengakui bahwa wilayah itu memang merupakan ruang jelajah satwa bernama ilmiah Elephas maximus sumatrensis tersebut, yang juga dihuni manusia.

Warga membuka kebun dan menjalankan budi daya tanaman di jalur itu. Hal tersebut memungkinkan terjadinya konflik antara satwa dan manusia.

votes
Article Rating

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments