Kumpulan Pertanyaan untuk Para Pemelihara Satwa Liar

  • Share
Kumpulan Pertanyaan untuk Para Pemelihara Satwa Liar
Ilustrasi primata. Foto: onegreenplanet.org

Gardaanimalia.com – Belakangan banyak tren pemeliharaan satwa liar kian meningkat. Banyak pemelihara yang memakai dalih melindungi dan menyelamatkan satwa. Ada juga yang memelihara satwa demi pemenuhan hobi pribadi. Melihat tren tersebut, muncul beberapa pertanyaan yang akan cocok jika diajukan pada para pemelihara.

Apakah pemelihara satwa liar tahu darimana asal satwa dan bagaimana proses pengambilannya dari alam?

Sebelum memutuskan untuk memelihara satwa liar, pernahkan pemelihara menanyakan atau mencari tahu tentang asal satwa dan bagaimana proses penangkapannya dari alam? Apa hanya sekadar yang penting satwanya lucu dan mampu beli?

Untuk diketahui, demi memenuhi perminataan pasar, pemburu kerap kali menangkap satwa dari alam dengan proses yang kejam. Berdasarkan data International Animal Rescue (IAR) Indonesia tahun 2019 tercatat  80% satwa yang dijual secara online merupakan hasil tangkapan dari alam liar.[1]https://www.voaindonesia.com/a/pentingnya-penguatan-hukum-dalam-perlindungan-satwa-liar-di-indonesia/4825454.html

Data lain menyebutakan, salah satu spesies dengan tingkat perburuan yang tinggi dengan tujuan dijadikan hewan peliharaan adalah spesies primata. Dari tahun 2018 tercatat 10 laporan kasus perburuan primata setiap bulannya. Data ini mengacu pada catatan Profauna tentang perburuan primata.[2]https://www.mongabay.co.id/2019/01/31/selamat-hari-primata-selamatkan-dari-perburuan/  Target perburuan seringkali anak-anak primata yang masih belum bisa hidup mandiri karena dianggap lucu dan menggemaskan untuk dipelihara.

Anak-anak primata dipaksa berpisah dengan induknya bahkan pemburu tidak segan membunuh induk primata agar proses penangkapan lebih mudah dilakukan.Jadi, apakah para pemelihara mengetahui fakta tersebut atau hanya menutup mata saja selama ini?

Apakah pemelihara mengetahui dampak ekologis yang ditimbulkan setelah mengambil satwa liar dari alam?

Dampak yang diakibatkan sangat luas apabila kegiatan memelihara satwa liar masih terus berlangsung. Seiring waktu jumlah populasi satwa liar di alam akan terus menurun akibat perburuan liar. Hal ini mengakibatkan keanekaragaman fauna akan terus berkurang khususnya di Indonesia. Besar kemungkinan spesies tertentu akan mengalami kepunahan jika terus menerus dieksploitasi. Dampak secara tidak langsung juga akan terjadi seperti ketidakseimbangan populasi dalam rantai makanan akan menyebabkan jumlah populasi spesies lainnya menjadi tidak terkendali dan akhirnya menjadi hama bagi berbagai macam sektor kehidupan.

Apakah pemelihara sudah memikirkan masa depan satwa ketika sudah mulai besar, tidak lucu, dan kebutuhannya semakin banyak?

Pada dasarnya satwa liar tetaplah liar. Seiring bertambahnya usia, banyak satwa yang kemudian berubah menjadi agresif. Pada 25 April 2018 silam dua buaya peliharaan warga Sukoharjo, Jawa Tengah lepas  dan masuk ke pemukiman warga karena dipelihara ditempat yang tidak memadai dan rentan lepas karena ukurannya semakin besar. Hal ini tentu sangat berbahaya.

Baca juga: Catatan Suram Penganiayaan Satwa Liar di Indonesia

Selain itu, beberapa satwa juga akan membutuhkan lebih banyak makanan. Dalam beberapa kasus, pemelihara akhirnya tidak sanggup lagi untuk memenuhi kebutuhan makanan satwa pemeliharaannya lalu membuang satwa tersebut sembarangan. Pada bulan Juli 2021 lalu seekor buaya ditemukan berada di selokan di wilayah kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pihak BKSDA menduga, satwa buas itu sengaja dibuang oleh pemiliknya yang tidak bertanggungjawab. Padahal prosedur pelepasliaran satwa liar tidak semudah itu.

Dua contoh di atas hanya sebagian kecil saja. Masih ada banyak lagi kasus penelantaran satwa dengan alasan sudah besar, tidak lucu, sudah agresif, makannya banyak, dan lain sebagainya.

Bagaimana jika satwa liar berubah ganas dan tidak terkendali?

Memelihara anak satwa liar tidak menjamin hilangnya sifat-sifat liarnya ketika usianya beranjak dewasa karena etiologi (perilaku) dan insting liar muncul seiring bertambahnya usia. Tidak mengherankan jika satwa berubah menjadi ganas atau buas. Apabila hal ini terjadi, pemelihara mungkin akan merasa terancam dan tidak dapat berinterakasi dengan satwa yang dipelihara. Solusi yang kerap dipilih yaitu mengurung, merantai, memukul, mencabut cakar dan gigi bahkan  membunuh satwa yang telah berubah menjadi ganas agar tidak membahayakan pemiliknya.[3]http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/?p=825 Ada pula yang akhirnya membuang satwa secara sembarangan tanpa prosedur yang tepat.

Bagaimana dampak negatif yang dialami satwa liar?

Dampak dan resiko yang sering diketahui akibat memelihara satwa liar sebagian besar dikaji dalam sudut pandang manusia. Satwa liar yang dipelihara dapat mengalami stress, trauma, gangguan perilaku bahkan kematian seperti halnya manusia yang mengalami berbagai tekanan/stress.

Satwa liar memiliki sifat alami yang sebagian besar tidak akan memperlihatkan atau menyembunyikan rasa atau tanda sakit. Sakit atau gangguan yang terjadi disebabkan satwa liar tidak mendapat kebutuhan nutrisi dan fisiologis secara menyeluruh akibat dipelihara dalam ruang yang terbatas. Pemelihara satwa liar seringkali tidak mengatahui kajian ini secara luas dan hanya sekadar membeli kemudian memelihara satwa untuk kebutuhan pribadi.

Apakah pemelihara menyadari bahwa hobi memelihara data menyebabkan epidemi bahkan pandemi?

Satwa liar dan manusia yang seharusnya tidak hidup bersama dapat mendorong proses penyebaran penyakit (zoonosis) yang dapat berkembang menjadi epidemi bahkan pandemi.[4]http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/?p=825 Transminsi penyakit dapat terjadi akibat kontak langsung dan tidak langsung antara manusia dan satwa liar.

Fakta ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Dr. Shivaprakash Nagaraju, peneliti Nature Conservancy di India yang menyimpulkan bahwa seperempat mamalia (26,5%) dalam perdagangan illegal mengandung 75% virus zoonosis yang diketahui. Data penelitian ini juga menunjukkan virus yang terkandung lebih tinggi dibandingkan dengan mamalia (satwa liar) yang didomestikasi dan tidak diperdagangkan. Tentunya manusia menjadi faktor utama hal ini.

Konotasi negatif dapat muncul terhadap suatu spesies satwa yang diduga menjadi agen penyebaran penyakit yang pada mulanya diakibatkan oleh perilaku manusia itu sendiri seperti memakan dan memelihara satwa liar. Tanpa penanganan yang tepat peristiwa ini berujung pada pemusnahan suatu spesies tertentu yang berakibat pada penurunan populasi satwa liar atau kepunahan dan ketidakseimbangan ekosistem.

Jadi, apakah memelihara satwa liar masih bisa dibenarkan? Tentu tidak! Apapun alasannya.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments