Elang Bondol, Si Maskot Ibu Kota yang Terancam Punah

Gambar seekor burung elang bondol. | Foto: Dezmond Wells/inaturalist
Gambar seekor burung elang bondol. | Foto: Dezmond Wells/inaturalist

Gardaanimalia.com – Apakah kalian tahu atau pernah melihat burung pemangsa gagah yang satu ini? Dia si elang bondol yang memiliki nama spesies Haliastur indus.

Spesies Haliastur indus indus (Boddaert, 1783) merupakan maskot DKI Jakarta yang ditetapkan oleh Gubernur Wigoyo Admodarminto dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989.

Yuk, mari mendekat dan kenal lebih jauh tentang elang bondol Si Maskot Jakarta yang terancam punah!

Bentuk Fisik dan Perilaku

Elang bondol yang kerap juga disebut lang lang merah memiliki ciri khas berwarna kontras antara bulu bagian kepala, leher, dan dada yang memiliki warna putih dengan bulu bagian lainnya yang berwarna cokelat sedikit merah bata, kecuali ujung sayapnya berwarna hitam.

Sementara, lang lang merah anakan memiliki warna lebih cokelat, namun berubah menjadi putih keabuan pada tahun kedua dan saat menjadi dewasa ia tumbuh dengan warna putih dan cokelat di tahun ketiga.

Lang lang merah termasuk satwa yang sulit dibedakan antara jantan dan betina, akan tetapi hal itu tetap bisa kita lihat dari ukuran tubuhnya, yakni sang betina lebih besar dari sang jantan.

Lalu, jika kita ingin mengetahui jenis kelamin elang bondol bagaimana ya? Nah, karena sulit dibedakan maka yang harus dilakukan adalah dengan cara tes deoxyribonucleic acid (DNA).

Satwa yang biasa hidup soliter ini -kecuali saat berada di daerah yang berlimpah makanan mereka membentuk kelompok hingga 35 individu- mereka melakukan gerakan musiman yang berkaitan dengan curah hujan di wilayah tempat tinggalnya.[1]https://gembiralokazoo.com/collection/brahminy-kite.html

Saat berada di sekitar sarang dan merasa pergerakannya di udara terganggu, elang bondol sesekali menunjukkan perilaku terbang dengan cepat, kemudian menukik tajam dengan posisi sayap terlipat serta dilakukan berulang-ulang.

BACA JUGA:
Akankah Macan Tutul Jawa Bernasib Sama Seperti Harimau Jawa?

Lang lang merah akan terbang lebih rendah di atas permukaan air untuk berburu makanan. Terkadang ia menunggu mangsa datang sambil hinggap di pohon dekat air, dan sewaktu-waktu ia juga berjalan di tanah sembari mencari semut atau serangga kecil.

Maskot DKI Jakarta yang terancam punah tersebut biasa memakan ikan, kepiting, ataupun katak. Akan tetapi, sesekali ia juga tampak berburu kelelawar. Untuk mendapatkan makan, ada kalanya elang bondol mencuri atau mengambil makanan dari burung lainnya loh.

Nah, tahukah kamu kalau satwa satu ini kerap melakukan akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangannya? Perilaku inilah yang membuat proses pengembangbiakan mereka di penangkaran terbilang sulit. Terlebih, musim kawin mereka hanya terjadi pada bulan November-Desember.

Persebaran dan Status Perlindungan

Satwa yang diberi julukan lang lang merah ini merupakan satwa dilindungi di Indonesia. | Foto: Atika/Garda Animalia
Satwa yang diberi julukan lang lang merah ini merupakan satwa dilindungi di Indonesia. | Foto: Atika/Garda Animalia

Elang bondol atau dalam bahasa Inggris disebut Red-backed sea-eagle itu tersebar di beberapa negara seperti Sri Lanka, Nepal, India, Pakistan, Bangladesh, Asia Tenggara dan lebih jauh ke selatan yaitu New South Wales, Australia.[2]https://www.thainationalparks.com/species/brahminy-kite

Sementara itu di Indonesia, spesies burung elang ini memiliki wilayah persebaran yaitu Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, Pulau Maluku dan Kepulauan Nusa Tenggara. Karena elang bondol biasa hidup di lahan basah dan habitat pesisir.

Kepulauan seribu yang terdapat di Pulau Jawa menjadi salah satu habitat dari Si Pemangsa Gagah yang populasinya kian menurun, hal ini diakibatkan banyaknya perburuan, penurunan kualitas dan luasan habitat, serta berkurangnya mangsa.[3]https://www.iucnredlist.org/species/22695094/93489054

Sehingga, Haliastur indus termasuk satwa yang dilindungi menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

BACA JUGA:
Terjadi Penyelundupan dari Kalimantan, Kucing Hutan Diamankan Petugas

Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa elang bondol dijadikan sebagai maskot DKI Jakarta. Meskipun burung dilindungi tersebut masuk dalam kategori Least Concern (LC) atau spesies dengan tingkat rendah terancam punah dalam IUCN,[4]Ulumiyah, Nurul. Faktor-faktor penentu keberhasilan pelepasliaran elang bondol (Haliastut indus Boddaert,1783) di taman nasional kepulauan seribu. Journal of Natural Resources and Environmental … Continue reading tetapi penurunan populasi Haliastur indus di Pulau Jawa akan berdampak pada ekosistem karena lang lang merah merupakan predator puncak.

Status populasi elang bondol terus menurun, tidak hanya di Indonesia namun di hampir seluruh wilayah persebarannya. Berdasarkan dari IUCN Red List, Haliastur indus paling banyak diburu untuk dijadikan satwa peliharaan. Secara global, populasinya hanya tersisa sekitar 100.000 ekor.

Burung dari famili Accipitridae ini memiliki 4 subspesies, yakni:

1. Haliastur indus indus (Boddaert, 1783) yang terdapat di Asia Selatan.

2. Haliastur indus intermedius (Blyth, 1865) yang terdapat di semenanjung Malay, Sunda, Sulawesi dan Filipina.

3. Haliastur indus girrenera (Vieillot, 1822) yang terdapat di Papua Nugini, Kepulauan Bismark dan Australia Barat.

4. Haliastur indus flavirostris (Condon & Amadon, 1954) yang terdapat di Kepulauan Solomon.

Upaya Perlindungan

Program penyelamatan dan rehabilitasi elang bondol saat ini terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu, lebih tepatnya di Pulau Kotok Besar yang dikelola oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN), bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sejak tahun 2005 dan telah berhasil melepasliarkan banyak elang bondol dan jenis elang laut lainnya.

Sebagai masyarakat awam, kita juga bisa loh berkontribusi dengan tidak membeli dan memelihara burung ini agar perdagangan elang bondol turut berkurang. Semakin banyak masyarakat yang ikut serta dalam upaya pelestarian dan perlindungan maskot DKI Jakarta ini, maka diharapkan populasinya di alam akan terus terjaga.

BACA JUGA:
Mentok Rimba, Burung Air yang Kini Semakin Sulit Ditemukan

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments