Berita  

Fenomena Maraknya Kemunculan Ular di Mamuju

Ilustrasi ular sanca kembang. | Foto: Commons Wikimedia/Kompas
Ilustrasi ular sanca kembang. | Foto: Commons Wikimedia/Kompas

Gardaanimalia.com – Fenomena maraknya kemunculan reptil jenis ular di Kabupaten Mamuju disebut karena habitat satwa kian terancam.

Kanit Rescue Damkar Mamuju, Jubair mengatakan, bahwa dalam sebulan terakhir ini timnya telah melakukan evakuasi sebanyak 20 ekor ular di Kecamatan Simboro dan Mamuju.

Ia menyebut, jumlah yang tercatat itu belum termasuk yang ditangkap sendiri oleh warga. Seperti tiga hari yang lalu, jelasnya, warga menangkap dua ekor piton dengan panjang hingga 7 meter.

Reptil sepanjang 7 meter tersebut kemudian dikuliti warga setelah kedapatan memakan seekor anjing di Jalan Andi Makkasau, pada Senin (19/9).

“Tapi masih ada yang lebih besarnya, ini karena kami prediksi masih ada lagi (yang berkeliaran),” ujar Jubair di kantornya di Jalan Ahmad Yani, Rabu (21/9) dikutip dari Kompas.

Dia menjelaskan, selain ular piton, pihaknya juga melakukan evakuasi terhadap beberapa jenis lainnya, yaitu ular sanca, kobra, dan boiga.

Jubair: Satwa Lebih Dulu Tinggal di Sana

Ramainya kemunculan reptil tidak berkaki dan bertubuh panjang tersebut di kawasan permukiman, ucap Jubair, dikarenakan habitat satwa liar tersebut sedang terancam.

Pasalnya, menurut Jubair, saat ini banyak habitat ular yang dijadikan sebagai bangunan permukiman oleh masyarakat. Padahal, ujarnya, satwa liar lebih dulu tinggal di sana.

“Sebelum kita kan, mereka (ular) memang yang duluan di sana,” tegas Jubair.

Laki-laki yang akrab disapa Bimo tersebut mengaku punya kendala ketika mengevakuasi satwa liar. Selain kasusnya yang semakin banyak, satwa itu juga harus diamankan terlebih dulu di kantor Damkar Mamuju.

Hal itu dinilai sulit lantaran di tempat kerja mereka tidak mempunyai tempat penangkaran. Sehingga, reptil ditumpuk di salah satu ruangan yang juga berisiko terhadap keselamatan petugas.

BACA JUGA:
Miliki Tanduk Rusa dan Kambing Hutan, Warga Bengkulu Ditangkap Polisi

Ia menceritakan, bahwa penumpukan terjadi karena pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) baru mengambil ular setelah disimpan selama 2-3 hari di kantor Damkar Mamuju.

“Yang kami utamakan penangkaran. Karena kalau dapat 1-2 ekor kewalahan kami. Jadi kami imbau teman-teman BKSDA kalau bisa dipercepat,” harapnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments