Kocak, Warga Minta BKSDA Usir Gajah Sumatera

  • Share
Ilustrasi seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis). | Foto: Sunarto/Forestdigest
Ilustrasi seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis). | Foto: Sunarto/Forestdigest

Gardaanimalia.com – Tiga ekor gajah sumatera melintas di perkebunan warga di Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang merupakan wilayah jelajahnya.

Merespon peristiwa tersebut, tim dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau pun datang ke lokasi sejak tanggal 4 sampai 7 Juli 2022.

Turunnya petugas ke lapangan, yakni bertujuan untuk melakukan mitigasi terhadap konflik kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) yang terjadi.

Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Riau, Andri Hansen Siregar mengatakan, bahwa tim telah melakukan koordinasi dengan Ketua RT 1 Kelurahan Langgam selaku orang yang melaporkan konflik gajah.

Selanjutnya, tim bersama Ketua RT dan masyarakat setempat menuju lokasi konflik dengan naik pompong atau kapal kayu yang biasa digunakan nelayan tradisional sebagai sarana transportasi melaut.

Tiba di sana, kata Andri Hansen, mereka melakukan blokade di ladang sawit hingga menjelang fajar, agar mamalia besar itu tidak sampai masuk ke perkebunan.

“Tim bersama masyarakat menelusuri jejak gajah liar, akan tetapi tidak berjumpa dengan gajah. Jejak lama dan jejak baru bercampur. Sehingga disepakati akan ditunggu hingga malam agar gajah keluar,” ungkapnya, Minggu (10/7) dikutip dari GoRiau.

Lebih jauh, ia menceritakan, pas waktu malam hari mereka mendengar suara kawanan gajah liar mulai mendekat ke perkebunan sawit milik masyarakat dan saat itulah tim melakukan pengusiran gajah sumatera.

“Gajah liar berjumlah tiga ekor, 2 betina dewasa dan 1 ekor berjenis kelamin jantan. Tim bersama masyarakat melakukan penghalauan gajah liar hingga malam,” jelas Andri Hansen.

Ujarnya, tim BKSDA juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang penanggulangan konflik gajah sumatera, namun warga menginginkan gajah dievakuasi ke tempat lain.

BACA JUGA:
Polres Majalengka Ungkap Perdagangan Burung Tiong Emas

Terkait hal itu, tim pun berkoordinasi untuk kelanjutan penanganan konflik satwa liar. Pasalnya, wilayah tersebut merupakan wilayah jelajah gajah yang kini telah berubah menjadi perkebunan.

“Perlu penanganan dan koordinasi dari berbagai pihak untuk penyelesaian masalah ini hingga manusia dan gajah bisa hidup berdampingan tanpa merugikan satu sama lain,” tutur Andri Hansen.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments