Binturong, Musang Besar yang Menjadi Spesies Kunci Ekosistem

  • 5
    Shares

Binturong, musang terbesar diantara musang lainnya. Foto : Skeeze

Gardaanimalia.com – Binturong (Arctictis binturong) merupakan satwa terbesar dari keluarga musang (Viverridae). Ukuran tubuh mereka dapat mencapai 98 cm dengan berat mencapai 20 kg. Ukuran binturong betina lebih besar 20% daripada ukuran Binturong jantan. Satwa ini disebut “bearcat” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kucing beruang” karena penampakannya seperti campuran antara kucing dan beruang dengan warna rambut hitam atau kecoklatan.

Binturong dapat ditemukan di Asia Tenggara, terutama di Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Laos, Malaysia, Nepal, Philippines, Thailand, and Vietnam. Di Indonesia Binturong dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, Nias, Riau, dan Bangka.

Binturong adalah satwa arboreal (hidup di atas pohon) dan tinggal di kawasan hutan tropis. Mereka menghabiskan waktu mereka di kanopi pepohonan hutan, mereka juga bahkan tidur di atas dahan pohon. Mereka juga merupakan pemanjat yang handal.

Binturong umumnya memakan buah-buahan sebagai menu makanan utamanya, seperti buah ara (Ficus altissima). Binturong mempunyai enzim khusus untuk melunakkan bagian luar biji buah ara. Selain memakan buah, mereka juga memiliki keahlian berburu satwa kecil seperti ikan, serangga, burung dan tikus. Satwa ini juga kadang memakan bangkai, telur, dan dedaunan dalam menu makanannya.

Satwa ini seringkali disebut sebagai spesies kunci di dalam suatu ekosistem hutan. Kemampuannya dalam menyebarkan biji buah ara memberikan pengaruh yang sangat krusial dalam kehidupan ekosistem hutan. Selain sebagai penyebar biji, Binturong juga bertugas sebagai pengontrol populasi satwa yang diburunya.

Sayangnya, kini populasi Binturong berkurang drastis sebanyak 30% selama 30 tahun terakhir. Hal utama yang menyebabkan berkurangnya populasi Binturong adalah hilangnya hutan dan perubahan habitat, Perdagangan satwa ilegal dan perburuan. Banyak yang menjadikan satwa ini sebagai binatang peliharaan, dikuliti untuk diambil rambutnya dan juga sebagian masyarakat menggunakan daging Binturong sebagai bahan konsumsi dan pengobatan.

Perdagangan binturong sebagai peliharaan banyak ditemui di media sosial seperti facebook. Foto : Kevin Kdsphotos

Tren memelihara Binturong muncul karena perawakan satwa ini yang eksotis dan perilakunya yang baik. Banyak masyarakat yang ingin memelihara satwa ini sehingga permintaan pasar menjadi tinggi dan mengancam populasinya di habitat aslinya. Perdagangan Binturong secara online banyak ditemukan di beberapa media sosial seperti facebook dan instagram.

Binturong masuk ke dalam status konservasi sangat kritis di Cina dan merupakan satwa dilindungi di Malaysia. Di Indonesia, semakin langkanya keberadaan Binturong membuat satwa ini masuk ke dalam daftar satwa dilindungi menurut Peraturan Peraturan Menteri LHK no. P92 tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Binturong masuk ke dalam daftar merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable, VU), dan daftar CITES dengan status Appendix III.

Jadi adakah diantara kalian yang ingin pelihara Binturong? Lebih baik bantu lestarikan Binturong dengan tidak membeli satwa ini sebagai peliharaan!

Referensi : IUCN red list,  Animaldiversity.org, rightpet.com


  • 5
    Shares

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 13 =