Ekosida: Kejahatan Luar Biasa Terhadap Satwa dan Lingkungan Hidup

  • Share
Ekosida: Kejahatan Luar Biasa Terhadap Satwa dan Lingkungan Hidup
Ilustrasi kerusakan alam akibat ekosida. Foto: Republika

Gardaanimalia.com – Krisis iklim dan ekologi global yang semakin tidak terkendali akhir-akhir ini diyakini para pemerhati lingkungan di seluruh dunia sebagai konsekuensi dari Ecocide atau ‘Ekosida’.[1]Stop Ecocide Foundation. What Is Ecocide?. https://www.stopecocide.earth/what-is-ecocide Stop Ecocide Foundation, yakni organisasi non-profit global terhadap ekosida, mendefinisikan ekosida sebagai “perusakan ekosistem secara besar-besaran… sedemikian rupa sehingga kedamaian yang dirasakan oleh penghuni wilayah tersebut telah dan akan sangat berkurang.[2][2] Stop Ecocide Foundation. FAQS – Ecocide & The Law. https://www.stopecocide.earth/faqs-ecocide-the-law Ruang lingkup ekosida cukup luas, antara lain overfishing, industri ekstraktif, deforestasi, penumpahan minyak dan bahan-bahan kimia; sampai dengan polusi air, udara, dan tanah yang masif.

Hampir semua permasalahan lingkungan hidup dapat dikaitkan dengan ekosida. Satu studi dari Univesity of Leeds, Inggris memperingatkan bahwa eksploitasi habitat liar untuk pertanian dan peternakan akan membuat hampir 90 persen hewan darat di seluruh benua kehilangan habitatnya pada tahun 2050.[3]Novena, M. 2020, 28 Desember. Kompas.com. Peringatan, 90 Persen Hewan Darat akan Kehilangan Habitatnya pada 2050. … Continue reading Pada tahun 2018 lalu, World Wildlife Fund (WWF) melaporkan bahwa sekitar 60 persen vertebrata di seluruh dunia sudah lenyap akibat perusakan habitat liar, overfishing, dan polusi.[4]2018. WWF. The Living Planet Report 2018. https://www.wwf.org.uk/updates/living-planet-report-2018 Laporan tersebut juga menambahkan bahwa satu juta spesies (500.000 spesies hewan dan tumbuhan, serta 500.000 spesies serangga) global terancam punah dalam waktu beberapa dekade karena aktivitas antropogenik manusia yang luar biasa.[5]Ibid

Lima puluh sembilan ilmuwan yang berkontribusi pada laporan WWF tahun 2018 sebelumnya memperingatkan bahwa lenyapnya spesies-spesies tersebut tidak hanya merusak sistem jaring-jaring makanan yang ada, namun juga mengancam keberlangsungan peradaban manusia.[6]Carrington, D. 2018, 30 Oktober. The Guardian. Humanity has wiped out 60% of animal populations since 1970, report finds. … Continue reading Pandemi COVID-19 saat ini juga tidak lepas dari deforestasi yang tidak terkontrol [7]ollefson, J. 2020, 20 Agustus. Nature. Why deforestation and extinctions make pandemics more likely. https://www.nature.com/articles/d41586-020-02341-1 dan perdagangan satwa liar secara besar-besaran.[8]Kolby, J. 2020, 7 Mei. National Geographic. To prevent the next pandemic, it’s the legal wildlife trade we should worry about.

Ekosida: Kejahatan Luar Biasa Terhadap Satwa dan Lingkungan Hidup
Ilustrasi harimau. Foto: Yayasan Arsari

Kasus-kasus ekosida dapat dilihat dengan jelas di Indonesia. Degradasi hutan Sumatera secara kontinu akibat aktivitas penambangan dan pembangunan infrastruktur menyebabkan peningkatan konflik antara harimau Sumatera dan warga yang menewaskan hingga 5 orang petani di Sumatera Selatan pada bulan November dan Desember 2019 lalu.[9]Gokkon, B; Wijaya, T. 2019, 30 Desember. Mongabay. Habitat loss drives deadly conflict in Indonesia’s tiger country. … Continue reading Sebelumnya, pada awal Maret 2018, seekor harimau sumatera ditemukan dibunuh dengan brutal menggunakan tombak oleh warga Desa Hatupangan, Sumatera Selatan, hanya karena harimau tersebut tidur di depan rumah seorang warga.[10]The Jakarta Post. Tiger brutally killed in North Sumatra, hung from ceiling
https://www.thejakartapost.com/news/2018/03/04/tiger-brutally-killed-in-north-sumatra-hung-from-ceiling.html

Di Sumatera, konflik antara harimau dan warga bahkan sudah menjadi hal yang lazim dalam kehidupan sehari-harinya.[11]2020, 8 Juli. Global Environment Facility. Mitigating human-wildlife conflict to save Indonesia’s Sumatran tigers. … Continue reading Selain harimau, gajah di Sumatera juga kehilangan 69 persen habitatnya akibat deforestasi dalam 25 tahun terakhir, sehingga mendorong konflik dengan warga.[12]WRI Indonesia. 2018, 6 Maret. Human and Elephant Conflict: The Invisible Impact of Forest Loss. https://wri-indonesia.org/en/blog/human-and-elephant-conflict-invisible-impact-forest-loss Di Aceh, konflik antara warga dengan gajah juga terus meningkat. Diyakini bahwa 81 persen kematian gajah di Aceh disebabkan oleh konflik dengan warga.[13]Ibid Diperkirakan bahwa dengan laju kematian gajah di Aceh yang semakin meninggi, gajah Aceh diprediksi punah dalam waktu 30-40 tahun.[14]Ibid

Di Kalimantan, pada periode tahun 2000-2005 saja, 1,23 juta ha hutan ditebang, atau sekitar 673 ha hutan hilang tiap harinya.[15]PROFAUNA Indonesia. About Forests in Kalimantan. https://www.profauna.net/en/forest-campaign/kalimantan-forest/about-forests-in-kalimantan#.YBFTG2gzbIU Pada bulan Juli 2015 lalu, sebuah kebakaran hutan meluas dari Kalimantan, Sumatera, hingga Papua, akibat pembukaan lahan untuk perusahaan kelapa sawit, tambang, dan kayu ilegal.[16]reenpeace International. Indonesian Forests & Palm Oil. https://www.greenpeace.org/usa/issues/indonesian-forests-palm-oil/ Satu perusahaan asing juga dilaporkan ‘sengaja’ membakar lebih dari 57.000 ha hutan di Papua, atau hampir seluas Seoul (ibukota Korea Selatan) pada bulan November 2020 lalu.[17]Amindoni, A; Henschke, R. 2020, 20 November. BBC Indonesia. Papua: Investigasi ungkap perusahaan Korsel ‘sengaja’ membakar lahan untuk perluasan lahan sawit Padahal, hutan-hutan tersebut termasuk salah satu hutan terbesar dan memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia, setelah hutan hujan Amazon, Brazil, dan hutan Kongo, Afrika;[18]Rainforest Action Network. Indonesia’s Rainforests: Biodiversity and Endangered Species. https://www.ran.org/indonesia_s_rainforests_biodiversity_and_endangered_species/ serta lebih dari 60 persen kekayaan hayati Indonesia ada di Papua.

BACA JUGA:
Revisi UU Konservasi Perlu Menerapkan Sanksi Pemulihan

Baca juga: Kejahatan Satwa Meningkat, Revisi UU Konservasi Tidak Bisa Ditawar!

Ekosida di perairan Indonesia juga tidak kalah mengerikan. Menurut sebuah studi dari Bank Dunia, tiap 20 menit, sekitar 10 ton sampah plastik dibuang ke perairan di sekitar Indonesia.[19]World Bank. 2019, 31 Mei. Meet the Innovators Battling Plastic Waste in Indonesia: Mohamad Bijaksana Junerosano. … Continue reading Indonesia sendiri menempati posisi kedua sebagai pencemar polusi plastik terbesar di dunia. Sampah plastik menjadi salah satu masalah terbesar bagi lautan saat ini, dengan banyaknya dokumentasi hewan laut yang terbunuh akibat kontaminasi sampah tersebut.[20]okkon, B. 2020, 9 September. Mongabay. In Indonesia’s coastal villages, the plastic crisis is both homegrown and invasive. … Continue reading Diperkirakan bahwa ikan pari dan hiu paus di Indonesia mengonsumsi 63 hingga 137 buah plastik tiap jamnya.[21]Germanov, E.;Marshall, A. 2019, 19 November. Frontiers in Marine Science. Microplastics on the Menu: Plastics Pollute Indonesian Manta Ray and Whale Shark Feeding Grounds. … Continue reading Pada bulan November 2018 lalu, ditemukan lebih dari 1.000 sampah plastik seberat 5,9 kg di dalam perut satu Paus Sperma yang mati terdampar di Sulawesi Selatan.[22]Associated Press Jakarta. 2018, 20 November. Indonesia: dead whale had 1,000 pieces of plastic in stomach. … Continue reading

Terumbu karang Indonesia juga mengalami nasib nahas akibat ekosida, dimana LIPI memperkirakan sepertiga dari terumbu karang yang ada di Indonesia sudah rusak pada tahun 2018, dan hanya 6,39 persen terumbu karang yang berada pada kondisi sangat baik.[23]Renaldi, A. Vice Indonesia. 2018, 30 November. Penelitian LIPI: Masa Depan Terumbu Karang Indonesia Amat Suram. … Continue reading Bahkan, diestimasi bahwa lebih dari 85 persen terumbu karang Indonesia terancam kritis.[24]Devantier, L. 2011. Elsevier. Indonesia: Threats to the Country’s Biodiversity. https://www.researchgate.net/publication/216791440_Indonesia_Threats_to_the_Country’s_Biodiversity

Kriminalisasi Ekosida

Dengan merajalelanya ekosida, makin banyak mayarakat dunia yang meminta hukum pidana internasional untuk kejahatan ini. Sejak tahun 2010, Stop Ecocide Foundation telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menetapkan ekosida sebagai kejahatan internasional di dalam Statuta Roma (perjanjian hukum pidana internasional). Sejumlah tokoh internasional dan negara-negara kepulauan yang sangat memperhatikan krisis iklim, seperti Maladewa dan Vanuatu, mendukung kriminalisasi pelaku ekosida di ICC (Makhamah Pidana internasional).[25]The Japan Times. 2020, 16 Desember. Bid to make ‘ecocide’ a crime gains new momentum. https://www.japantimes.co.jp/news/2020/12/16/asia-pacific/ecocide-crime-momentum/

Ekosida: Kejahatan Luar Biasa Terhadap Satwa dan Lingkungan Hidup
Foto bangkai paus yang mati terdampar. Foto: Kompas

Dukungan Indonesia untuk kriminalisasi ekosida sangatlah penting. Indonesia adalah negara dengan kekayaan biodiversitas terrestrial tertinggi kedua di dunia. Jika digabungkan dengan keanekaragaman hayati di laut, maka Indonesia menduduki peringkat pertama.[26]LIPI. 2020, 17 September. Potensi Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk Bioprospeksi dan Bioekonomi. … Continue reading Akan tetapi, Ekosida memberi ancaman yang tidak terbayangkan terhadap keanekaragaman tersebut. Indonesia memiliki angka mamalia dan burung yang terancam punah terbanyak di seluruh dunia akibat ekspansi yang masif dari industri-industri ekstraktif.[27]Rainforest Action Network. Indonesia’s Rainforests: Biodiversity and Endangered Species. https://www.ran.org/indonesia_s_rainforests_biodiversity_and_endangered_species/ Ekosida adalah kejahatan terhadap satwa liar dan kemanusiaan yang luar biasa, serta akan membawa krisis ekologi bersama kepunahan massal yang belum pernah ada sepanjang sejarah alam.

BACA JUGA:
Mengulas “Ekses” UU Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan yang Baru

Maka dari itu, Indonesia sebaiknya memberi dukungan yang serius untuk pemberantasan Ekosida. Perlindungan satwa liar akan semakin sulit jika para pelaku kejahatan ini hanya menanggung sanksi yang tidak sebanding dengan kehancuran yang dibawa oleh mereka. Ekosida adalah induk dari kejahatan terhadap satwa dan alam. Bagaimana Indonesia menangani ekosida ke depannya akan menentukan masa depan satwa dan lingkungan hidup Indonesia serta dunia.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments