9 Jenis Kucing Hutan Dilindungi yang Tidak Boleh Dipelihara

  • Share

Kucing hutan merupakan salah satu hewan langka yang menjadi peliharaan favorit selain kucing ras. Di antara yang paling banyak dijual murah adalah jenis kucing hutan borneo dan kucing hutan jawa. Tapi tahukah kamu? Tidak semua jenis kucing boleh dipelihara loh, termasuk kucing hutan borneo dan kucing hutan jawa.

Indonesia memiliki 9 jenis kucing hutan yang dilindungi Undang-Undang. Artinya, jenis-jenis kucing ini dilarang untuk dipelihara karena jumlah populasinya di alam bebas menurun tajam.

Jumlah populasi kucing hutan terus menurun karena beberapa penyebab, kebanyakan sih karena gangguan dari aktivitas manusia. Banyak hutan-hutan tempat tinggal kucing rusak karena pengalihan lahan, pembangunan dan kebakaran hutan. Selain karena rusaknya habitat, aktivitas lainnya seperti perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar juga berperan besar mengancam kepunahan kucing-kucing ini.

Kucing hutan banyak dicari oleh para penggemar kucing eksotis. Selain bentuknya yang unik dibanding jenis-jenis kucing domestik, statusnya yang langka menjadikan jenis kucing-kucing ini dicari-cari kolektor.

Padahal keberadaan jenis satwa karnivora ini sangat berguna untuk menjaga kestabilan rantai makanan dalam ekosistem hutan. Kalau kucing di hutan punah, ada kemungkinan ekosistem menjadi tidak stabil, sehingga mengancam kehidupan makhluk hidup lainnya. Maka dari itu, kelestarian kucing hutan di Indonesia perlu selalu kita jaga.

Biar kamu gak salah pilih jenis kucing peliharaan, berikut jenis-jenis kucing hutan yang dilindungi di Indonesia:

1. Harimau sumatra

Jenis kucing hutan
Harimau sumatra. Foto: Dok. Wikipedia

Kucing besar dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae ini dapat ditemukan di pulau Sumatra. Harimau sumatra merupakan satu-satunya sub-species harimau yang masih bertahan hidup di Indonesia. Sementara jenis lainnya, seperti Harimau jawa dan Harimau bali telah punah terlebih dulu. Harimau merupakan jenis kucing terbesar di Indonesia. Ukuran tubuhnya memiliki panjang rata-rata 2,5 m dari kepala hingga ekor dengan berat sekitar 140 kg.

Harganya yang selangit menyebabkan perburuan harimau banyak terjadi di wilayah Sumatra. Umumnya “Si Raja Hutan” ini diburu untuk kemudian diperdagangkan organ tubuhnya seperti kulit, kuku, kumis, tulang belulang hingga tengkorak harimau diperjualbelikan oleh sindikat perdagangan ilegal satwa liar. Organ tubuh tersebut dipercaya memiliki khasiat, baik untuk kebutuhan klenik maupun obat tradisional. Kulit harimau juga banyak dijadikan hiasan rumah.

Populasi Harimau sumatra terus menurun sepanjang tahunnya. Lembaga Internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) mencatat bahwa jumlah Harimau yang masih bertahan di habitatnya diperkirakan berkisar antara 400-500 ekor saja. Kucing jenis ini telah masuk dalam daftar merah dengan status Kritis/Critically endangered yang berarti keberadaannya tinggal selangkah lagi menuju kepunahan.

2. Macan tutul jawa

Jenis kucing hutan
Macan tutul jawa. Foto: Dok. Wikipedia/vachovec1

Macan tutul jawa atau Panthera pardus melas hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakambangan dan Pulau Sempu. Macan ini menjadi satu-satunya jenis kucing besar yang masih bertahan hidup di hutan Jawa, menggantikan Harimau jawa yang dinyatakan punah sejak 1980-an. Ukuran tubuh jenis kucing ini lebih kecil dibanding Harimau, dengan panjang tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm dan berat 40-60 kg.

Jenis macan ini merupakan salah satu satwa endemik di Pulau Jawa. Terdapat dua variasi warna macan tutul, yaitu warna terang dan warna gelap. Variasi gelap macan tutul kadang dianggap sebagai jenis yang berbeda dan dikenal dengan sebutan macan kumbang.

Populasi macan ini masih belum diketahui pasti. Menurut data dari Lembaga internasional IUCN, diperkirakan sebanyak 250 ekor macan masih tersisa di kantung-kantung habitatnya pada tahun 2018. Sama halnya seperti Harimau sumatra, Macan ini juga masuk ke dalam daftar merah dengan status Kritis. Menyempitnya habitat macan, tingkat reproduksi yang rendah, serta perburuan oleh manusia menjadi faktor ancaman kepunahan kucing ini.

3. Macan dahan sunda

Jenis kucing hutan
Macan dahan sunda. Foto: Dok. Flickr.com/Paulo Philippidis

Satwa karnivor yang juga dikenal dengan nama Neofelis diardi dapat ditemukan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Pada awalnya, jenis macan di wilayah ini dikenal sebagai sub-jenis Neofelis nebulosa, namun sejak tahun 2006 diketahui bahwa macan ini merupakan jenis yang berbeda. Dua sub-jenis dari macan ini telah dikenali, yaitu Neofelis diardi borneensis untuk jenis macan di Kalimantan dan Neofelis diardi diardi untuk jenis macan di Sumatra.

Macan dahan merupakan jenis kucing terbesar di wilayah Kalimantan. Kucing ini memiliki ukuran panjang tubuh mencapai 90 cm dengan berat hingga 25 kg.

Dalam laporan WWF, diperkirakan sekitar 5.000 dan 11.000 macan dahan masih tersisa di Kalimantan. Sedangkan di Sumatra diperkirakan tersisa sebanyak 3.000 hingga 7.000. Penyusutan populasi diperkirakan terjadi karena hilangnya habitat dan perburuan liar. Lembaga internasional IUCN memasukan jenis satwa ini dalam daftar merah dengan status Terancam/Endangered.

4. Kucing merah

Jenis kucing hutan
Kucing merah. Foto: Dok. Wikipedia/Jim Sanderson

Kucing merah atau Catopuma badia adalah jenis kucing hutan borneo yang sangat langka. Informasi mengenai kucing jenis ini sangat sedikit. Seluruh pengetahuan tentang kucing endemik Kalimantan ini hanya berdasarkan pada 7 spesimen. Enam yang pertama dikumpulkan antara 1855 dan 1928. Spesimen ketujuh dikumpulkan pada tahun 1992 (Nowak, 1991). Selain di Kalimantan, jenis kucing ini juga ditemukan di wilayah Malaysia dan Brunei.

Lembaga internasional IUCN memasukkan jenis kucing ini dengan status Terancam/Endangered. Pada tahun 2002, diperkirakan sebanyak 2,500 jenis kucing ini masih tersisa di habitatnya.

5. Kucing emas

Jenis kucing hutan
Kucing emas. Foto: Dok. Inaturalist.org/vanaavi

Kucing emas yang dikenal dengan nama latin Catopuma temminckii merupakan jenis kucing yang pemalu. Keberadaannya jarang terlihat karena menghindari aktivitas manusia. Kucing yang tersebar di wilayah Sumatra ini memiliki tubuh yang cukup besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 116 hingga 161 sentimeter dan beratnya berkisar antara 12-15 kilogram.

Saat ini terdapat tiga sub-spesies Kucing emas, yaitu Catopuma temminckii temminckii ditemukan di Himalaya, daratan Asia Tenggara dan Sumatra, Catopuma temminckii dominicanorum ditemukan di tenggara Cina dan Catopuma temminckii tristis ditemukan di barat daya Cina.

Lembaga internasional IUCN memasukkan jenis kucing ini dalam daftar merah hampir terancam punah/Near Threatened. Berkurangnya habitat dan perburuan liar menjadi ancaman kepunahan kucing ini. Banyak orang yang percaya, tulang kucing emas berkhasiat untuk pengobatan dan dagingnya sangat lezat.

6. Kucing batu

Jenis kucing hutan
Kucing batu. Dok : Inaturalist.org/Chien Lee

Kucing berukuran kecil ini tersebar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, kucing yang dikenal dengan nama Pardofelis marmorata ini dapat ditemukan di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Keberadaan kucing ini terancam oleh perburuan liar, seperti pemasangan jerat. Pola rambutnya yang indah membuat Kucing batu diburu untuk diambil kulitnya. Lembaga internasional IUCN memasukkan Kucing batu dalam status hampir terancam punah/Near threatened dalam daftar merah pada tahun 2015.

7. Kucing kuwuk

Jenis kucing hutan
Kucing kuwuk. Foto: Dok. Inaturalist/Forest Jarvis

Kucing hutan yang satu ini merupakan salah satu kucing yang banyak dikenal oleh masyarakat luas. Perdagangan kucing bernama latin Prionailurus bengalensis cukup sering dijumpai di media sosial. Keberadaannya yang cukup mudah ditemui di hutan Jawa, Sumatra dan Kalimantan menjadikan satwa ini banyak diburu untuk diperjualbelikan. Tak hanya di Indonesia, di belahan dunia lainnya seperti China dan Myanmar, jenis kucing ini banyak diburu untuk kebutuhan stok kulit.

Sejak revisi taksonomi pada tahun 2017, jenis kucing hutan ini berganti nama menjadi Prionailurus javanensis karena dianggap berbeda dengan jenis kucing yang ditemukan di Asia Timur, Asia Selatan hingga Rusia. Terdapat dua sub-jenis yaitu Prionailurus javanensis javanensis di Jawa dan Prionailurus javanensis sumatranus di Sumatra dan Kalimantan.

Sama seperti jenis Kucing batu, Kucing kuwuk juga memiliki ukuran tubuh yang kecil. Ukurannya nyaris menyerupai ukuran tubuh kucing domestik, namun lebih langsing dengan panjang tubuh antara 30-66 cm dan berat hingga 3 kg.

Jumlah kucing hutan ini diklaim terus menurun setiap tahunnya, kepadatan populasi  kucing ini relatif rendah untuk kucing kecil, antara 9,6 hingga 16,5 individu/100 km2. Lembaga internasional IUCN memasukkan Kucing kuwuk dalam status Resiko rendah/Least concern dalam daftar merah pada tahun 2015

8. Kucing tandang

Jenis kucing hutan
Kucing tandang. Dok : Inaturalist.org/Marc Faucher

Kucing tandang atau Prionailurus planiceps berukuran kecil, seukuran kucing domestik. Dapat ditemukan di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Populasi kucing ini diperkirakan kurang dari 2,500 individu di alam bebas. Lembaga internasional IUCN memasukkan Kucing tandang dalam status Terancam/Endangered dalam daftar merah pada tahun 2008.

9. Kucing bakau

Jenis kucing hutan
Kucing bakau. Foto: Dok. Inaturalist.org/indianwildlife

Kucing bakau atau Prionailurus viverrinus dapat ditemukan di hutan Sumatra dan Kalimantan dan hidup di sepanjang sungai dan rawa-rawa bakau. Berbeda dengan kucing domestik yang tidak suka air, kucing jenis ini mencari makan di tepian sungai. Kucing ini bisa berenang dan menyelam untuk memangsa makanannya. Terdapat selaput diantara jari-jari kakinya yang berguna saat kucing ini berada di air.

Kucing bakau adalah yang terbesar dari kucing Prionailurus lainnya. Ukuran kucing bakau sekitar dua kali kucing domestik. Panjang kepala sampai badan mereka biasanya berkisar 57-78 cm (22-31 in), dengan ekor pendek 20-30 cm (7,9-12 in). Berat kucing ini 5-16 kg (11-35 lb).

Pada tahun 2008, IUCN mengklasifikasikan kucing ini terancam punah karena mereka terkonsentrasi terutama di habitat lahan basah yang semakin sering di jadikan pemukiman manusia, dirusak dan diubah.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments