(Bahaya) Menerima Sawit sebagai Tanaman Hutan

  • Share
Gambar perkebunan kelapa sawit. | Foto: Greenpeace
Gambar perkebunan kelapa sawit. | Foto: Greenpeace

Gardaanimalia.com – Jika hutan hujan kita adalah sebuah sekolah, kabarnya ada anak baru yang ingin mendaftarkan diri. Dia disambut oleh banyak pengurus sekolah karena uang saku yang dia bawa banyak sekali.

Saking banyaknya, dia bisa menalangi berbagai kebutuhan sekolah serta menambah pemasukan para pengurusnya. Siapa yang tidak suka dengan anak kaya raya?

Oh, tapi ternyata beberapa guru menolak pendaftarannya. Kata mereka, anak baru ini punya tabiat yang kasar. Dia senang berbuat ulah seperti membakar lahan dan mencaplok wilayah orang.

Dia juga terkenal tidak ramah terhadap hewan dan warga lokal. Sebagian khawatir keberadaannya justru akan mengusir semua anak lainnya hingga sekolah bangkrut dan bubar.

Kita tidak perlu penasaran siapa dia karena kita semua pasti sudah pernah dengar namanya. Toh, dia adalah anak populer yang sering disebutkan di koran dan siaran televisi nasional.

Ialah sawit, si bocah yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai anak baik.

Sawit, yang sebelumnya terdaftar sebagai tanaman perkebunan, sekarang sedang dalam proses pengkajian agar dapat dimasukkan sebagai tanaman hutan.[1]Staff. 2021. “IPB University Composes Academic Paper of Oil Palm as a Forest Plant”. IPB University Web.

Kajian ini dilakukan oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB beserta Kajian dan Advokasi Konservasi Alam (Pusaka Alam) sebagai usaha untuk mengatasi masalah tumpang tindih antara perkebunan sawit dan kawasan hutan.[2]Maqoma, R.I. 2021. “Mengapa sejumlah ahli justru mendukung kelapa sawit menjadi tanaman hutan?”. The Conversation.

Sederhananya: kalau sawit jadi tanaman hutan, berarti perkebunan sawit juga adalah kawasan hutan. Ketika keduanya dilebur, maka tidak perlu lagi ada perselisihan antara mana yang wilayah kebun dan mana yang wilayah hutan. Berarti juga, kalau semua pohon disulap menjadi sawit, hamparan monokultural itu tetap sah disebut sebagai hutan.

Dalam kajian yang sedang dilakukan, ada beberapa parameter yang akan diuji, yaitu penggunaan lahan, serapan air, laju emisi CO2, produktivitas, pengaruh keanekaragaman hayati, hingga dampak sosial ekonomi sawit.[3]Staff. 2021. “IPB University Composes Academic Paper of Oil Palm as a Forest Plant”. IPB University Web.[4]Maqoma, R.I. 2021. “Mengapa sejumlah ahli justru mendukung kelapa sawit menjadi tanaman hutan?”. The Conversation.

Sebagai iktikad baik untuk menyambut calon teman baru kita, mari bersama selidiki salah satu parameternya: pengaruh keanekaragaman hayati.

Rumah Kumuh Itu Bernama Sawit

Sudah ada berbagai penelitian yang menguji seberapa baik kapasitas kawasan sawit untuk menampung biodiversitas. Jawaban singkatnya, tidak begitu baik. Jawaban panjangnya, tergantung hewan apa yang kita bicarakan.

Salah satu penelitian paling awal dilakukan oleh Fitzherbert dkk. (2008).[5]Fitzherbert, E.B., Struebig, M.J., Morel, A., dkk. 2008. “How will oil palm expansion affect biodiversity?”. Trends in Ecology & Evolution. 23(10): 538-545. Mereka mengumpulkan riset-riset tentang kelimpahan spesies hewan di perkebunan sawit dan kawasan hutan.

Hasilnya, ditemukan bahwa perkebunan sawit memiliki daya tampung hewan yang lebih rendah dibandingkan dengan hutan primer, khususnya untuk daya tampung vertebrata.

BACA JUGA:
Gajah dalam Lingkaran Pemburu

Rata-rata, hanya 15% dari seluruh spesies hewan hutan primer yang dapat ditemukan di perkebunan sawit. Kemudian, spesies yang hilang adalah mereka yang memiliki diet spesifik dan yang bergantung pada fitur habitat yang tidak ditemukan di perkebunan sawit seperti pohon berkanopi tinggi.

Hewan yang mendominasi perkebunan sawit adalah mereka yang generalis, spesies-spesies yang dapat bertahan hidup dan berkembang biak di berbagai kondisi. Sebagian besar spesies ini adalah spesies alien, invasif, dan hama perusak.

Sebagai contoh, 40% dari seluruh semut yang terdapat di perkebunan sawit Malaysia adalah spesies alien dan invasif seperti semut kuning gila (Anoplolepis gracilipes). Di tempat yang sama, densitas tikus hutan (Rattus tiomanicus) juga mencapai 600 ekor per hektare.

Penelitian yang serupa diulang berkali-kali pada berbagai taksa hewan dan dengan metode yang berbeda-beda. Mereka tetap memberikan simpulan yang sama.[6]Fitzherbert, E.B., Struebig, M.J., Morel, A., dkk. 2008. “How will oil palm expansion affect biodiversity?”. Trends in Ecology & Evolution. 23(10): 538-545.[7]Savilaakso, S., Garcia, C., Garcia-Ulloa, J., dkk. 2014. “Systematic review of effects on biodiversity from oil palm production”. Environmental Evidence. 3:4.[8]Vijay, V., Pimm, S.L., Jenkins, C.N. dan Smith, S.J. 2016. “The Impcts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss”. PloS ONE. 11(7): e0159668. Daya tampung biodiversitas perkebunan sawit jauh lebih rendah ketimbang hutan.

Perkebunan kelapa sawit. | Foto: Betahita.id
Perkebunan kelapa sawit. | Foto: Betahita.id

Sekarang pertanyaannya, apa yang mengakibatkan perbedaan daya tampung ini? Seperti yang telah disinggung sebelumnya, banyak hewan tidak bisa hidup pada wilayah yang monokultural.

Kawasan yang hanya ditumbuhi oleh satu jenis pohon tidak memberikan ruang adaptasi bagi berbagai spesies. Jika perkebunan sawit dianggap sebagai hutan, maka dia akan menjadi hutan yang kosong dengan keberagaman hayati yang tandus.

Karena ketandusannya, perkebunan sawit juga bertindak sebagai barikade penghalang antarkawasan hutan yang membatasi gerak hewan. Kita mengenal fenomena ini sebagai fragmentasi habitat.[9]Fahrig, L. 2003. “Effects of habitat fragmentation on Biodiversity”. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics. 34: 487-515.

Kalau sudah berbicara tentang fragmentasi habitat, masalahnya mampu merambah ke mana-mana: ruang gerak hewan menurun, sumber makanan hewan menurun, variasi gen spesies menurun.

Sementara persaingan antarindividu satwa meningkat, konflik manusia-hewan meningkat, perburuan meningkat, dan masih banyak lagi. Singkatnya, fragmentasi habitat adalah rumus jitu untuk kepunahan spesies.

Selain itu, perbatasan antara kawasan hutan dan perkebunan sawit dapat menghasilkan abiotic edge effect, suatu kondisi di mana biodiversitas menurun drastis pada batas dua habitat yang berbeda.

Maka, bukan hanya perkebunan sawit saja yang akan menjadi habitat tandus, tapi juga kawasan hutan liar yang bersinggungan dengannya. Daerah transisi ini juga rentan terhadap dampak-dampak negatif lain, seperti kerusakan oleh angin dan kebakaran hutan.[10]Fitzherbert, E.B., Struebig, M.J., Morel, A., dkk. 2008. “How will oil palm expansion affect biodiversity?”. Trends in Ecology & Evolution. 23(10): 538-545.

Dalam kegaduhan polemik ini, ada berbagai usulan yang mencoba mengambil jalur tengah. Salah satu yang cukup populer adalah, kenapa tidak kita campurkan saja sawit dan pohon hutan lain dalam satu lokasi yang sama?

BACA JUGA:
Nautilus Berongga, Satu-Satunya Chepalopoda Dilindungi di Indonesia

Dengan begitu, bukankah hewan-hewan kembali mendapatkan rumahnya selagi bisnis sawit masih dapat terus berjalan lancar? Usulan yang cukup rasional, bukan?

Bukan. Penelitian terbaru menolak efektivitas usulan ini. Korol dkk. (2021) menunjukkan bahwa pohon non-sawit tidak dapat tumbuh produktif di kawasan yang didominasi oleh sawit.[11]Korol, Y., Khokthong, W., Zemp, D.C., dkk. 2021. “Scattered trees in an oil palm landscape: Density, size and distribution”. Global Ecology and Conservation. 28: e01688.

Memang betul, pohon-pohon non-sawit mampu berfungsi sebagai suaka bagi spesies yang terpaksa tinggal di perkebunan sawit. Tapi pohon-pohon ini memiliki kualitas habitat yang jauh lebih rendah ketimbang pohon yang berada pada kawasan hutan.

Di perkebunan sawit, pohon non-sawit punya ukuran yang lebih kecil. Ini memperlihatkan kalau pohon-pohon non-sawit akan mati di usia yang relatif muda, sebelum mereka bisa tumbuh pada ukuran maksimalnya.

Sampai saat ini, belum ada (atau mungkin tidak akan pernah ada) solusi yang menawarkan harmonisasi antara ekspansi perkebunan sawit dan usaha menjaga biodiversitas.

Jelas, menjadikan sawit sebagai tanaman hutan juga bukan solusinya. Justru sebaliknya, usulan ini akan semakin menurunkan biodiversitas hewan seperti yang sudah berulang kali ditekankan.

Hal ini telah diamini oleh Prof. Yanto Santosa dari IPB. Beliau berpendapat bahwa perubahan hutan sekunder menjadi perkebunan sawit memang menurunkan biodiversitas hewan, khususnya mamalia.

Pada tahun 2017, beliau juga mempublikasikan penelitian yang menyebutkan, “konversi hutan menjadi perkebunan sawit, tanaman industri, dan pertambangan menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar, termasuk satwa langka”.[12]Santosa, Y., Yohana, Purnamasari, I., dan Andari, N.D. 2017. Keanekaragaman jenis satwa liar kebun kelapa sawit di Provinsi Riau. Bogor: PT Penerbit IPB Press, ix, 203 hal. ISBN: 978-979-493-0000-0.

Ini merupakan pernyataan yang menarik karena Prof. Yanto Santosa merupakan salah satu orang yang gigih mengusulkan sawit sebagai tanaman hutan dan pernah mengatakan bahwa sawit bukan penyebab deforestasi.[13]Maqoma, R.I. 2021. “Mengapa sejumlah ahli justru mendukung kelapa sawit menjadi tanaman hutan?”. The Conversation.[14]CNN Indonesia. 2021. “Walhi soal Sawit Jadi Tanaman Hutan: Guru Besar IPB Mengerikan”. CNN Indonesia.

Kebakaran lahan di area perkebunan kelapa sawit. | Foto: Greenpeace
Kebakaran lahan di area perkebunan kelapa sawit. | Foto: Greenpeace

Menakar Penerimaan Sang Anak Baru

“Segala usaha perluasan perkebunan sawit akan menurunkan keanekaragaman hayati” sepertinya bukan suatu simpulan yang sulit ditarik.

Itu merupakan pernyataan yang dapat dinalar dengan sederhana, bahkan tanpa meneliti angka dan data sekali pun. Namun, faktanya gonjang-ganjing pro dan kontra tentang sawit seakan tidak pernah menemukan ekornya.

Tidak dapat dipungkiri, sawit menawarkan keuntungan ekonomi yang sangat tinggi. Jika diangkakan, nilai ekspor sawit mencapai 220 triliun rupiah, komoditas non-migas dengan nilai jual tertinggi di Indonesia.[15]Darmawan, D.H.A. 2020. “Potensi dan Peluang Pasar Sawit Indonesia Saat ini dan Pascapandemi Covid-19”. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementrian Pertanian.

Inilah pusat masalahnya. Kalau rupiah terus timbul dan mengintruksi diskusi kita tentang konservasi, kita akan selalu menemui jalan buntu. Bagi siapa pun, 220 triliun rupiah adalah jumlah yang menggiurkan. Orang-orang jelas akan memilih jumlah ini ketimbang memikirkan kesejahteraan harimau dan orangutan.

BACA JUGA:
Akibat Terhalau Banjir, Gajah Sumatera Berlindung di Kebun Warga

Ketika berbicara tentang konservasi, data lain perlu diutamakan. Misal, sekitar 54% spesies mamalia dan 64% spesies burung di dunia terancam oleh bisnis sawit.[16]Meijaard, E. dkk (ed.) 2018. Oil palm and biodiversity. A situation analysis by the IUCN Oil Palm Task Force. IUCN Oil Palm Task Force Gland, Swiss: IUCN.

Atau seperti yang telah kita ungkit bertubi-tubi, bahwa sawit tidak cocok untuk kehidupan hewan-hewan hutan. Data ini sama sekali tidak mencolok di atas kertas, namun ini adalah data yang tepat diutamakan jika kita berbicara tentang konservasi.

Sawit ibarat seorang anak baru yang ingin mendaftarkan diri pada sebuah sekolah. Ketika kita melihat rekam jejaknya, ada dua hal yang mencolok: dia anak seorang bangsawan tapi hobinya melakukan bullying kepada anak lain.

Maka, poin mana yang kiranya perlu kita lebih soroti? Uangnya atau bahayanya?

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments