Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi

  • Share
Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Poksay mantel. Foto: Matthew Kwan

Gardaanimalia.com – Belakangan, berita penyelundupan burung sering muncul di berbagai media terutama jenis burng kicau. Kontes burung berkicau juga semakin marak diselenggarakan di berbagai wilayah di Indonesia. Konsekuensi dari maraknya kontes burung dan meningkatnya jumlah pehobi adalah meningkatnya permintaan terhadap burung.

Data yang dilaporkan oleh Burungnesia dalam buku Atlas Burung Indonesia yang diterbitkan tahun 2020 menunjukkan, ada banyak jenis burung yang jumlahnya justru lebih banyak di kandang dibandingkan yang hidup di alam. Menurut kajian yang dilakukan oleh Marshall dan kawan-kawan, ada sekitar 75 juta burung yang dipelihara oleh kurang lebi 30 persen keluarga di Pulau Jawa.

Mirisnya lagi, beberapa jenis burung kicau yang menjadi primadona di pasar ialah burung yang jumlahnya yang sudah sangat sedikit di alam. Kabar buruk lainnya, burung-burung ini tidak dilindungi oleh undang-undang meski populasinya di alam semakin menurun.

Murai Batu atau Kucica Hutan (Kittacincla malabarica)

Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Ilustrasi kucica hutan atau murai batu. Foto: Wikipedia/Casey Klebba

Murai Batu merupakan burung yang menjadi primadona bagi pehobi kontes burung kicau di tanah air hingga mancanegara. Burung yang berhabitat di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian Pulau Jawa terus diburu karena permintaan pasar yang mengalami peningkatan guna kepentingan pemeliharaan maupun partisipan lomba bernyanyi.

Menurut hasil survei dan penelitian yang dilakukan oleh lembaga TRAFFIC, Monitor, YPI, Oxford Wildlife Trade Research Group, WWF Malaysia, Universitas Gadjah Mada dan PERHILITAN, permintaan terhadap burung ini sangat tinggi di beberapa daerah. Sebut saja Jawa, Bali, Lombok, dan Kalimantan.

Data terbaru yang dipublikasikan oleh Burungnesia bahkan menyebutkan jumlah burung murai batu hanya ada 13 ekor yang ditemukan dari 27.212 lokasi yang diamati selama tahun 2016-2020. Yang mengejutkan, jumlah kucica hutan yang ada di dalam kandang justru mencapai 11.167 ekor.

BACA JUGA:
Cyrtodactylus Jatnai, Tokek Jenis Baru yang Diduga Endemik Bali

Anis-bentet Kecil (Colluricincla megarhyncha)

Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Anis bentet kecil. Foto: Hayley Alexander

Inilah salah satu jenis burung kicau dari wilayah Indonesia bagian timur dan Australia. Burung dengan nama anis bentet kecil ini memiliki racun bernama batrachotoxins atau BTXs. Racun ini juga dimiliki oleh katak beracun Amerika Utara dan Tengah. Para ahli burung Indonesia dan jurnal ilmiah internasional menyebut burung ini sebagai little shrikethrust.

Tidak diketahui berapa jumlah pasti burung anis-bentet kecil yang masih tersisa di alam. Namun, pengamat burung meyakini bahwa populasi burung ini mengalami penurunan yang cukup tajam di alam.

Burung dengan nama ilmiah Colluricicla megarhyncha ini ikut terdepak dari daftar burung dilindungi. Pencabutan anis-bentet kecil dan tiga spesies lainnya dari daftar dilindungi dianggap sebagai tindakan yang kurang tepat. Beberapa pengamat burung mengatakan keputusan ini dapat menjadi angin segar untuk penyelundup burung berkicau.

Baca juga: Menelusuri Perdagangan Satwa Dilindungi di Pasar Pal 7 Banjarmasin

Anis-bentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis)

Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Anis-bentet Sangihe. Foto: Wesley Pangimangen

Secara fisik, burung ini berukuran hanya sekitar 17 hingga 19 sentimeter dari paruh hingga ekornya. Bulu sangihe bagian atas berwarna coklat zaitun, sedangkan bagian bahu dan bawah punggungnya berwarna coklat tua, tubuh bagian bawah berwarna coklat pucat.

Burung endemik Pulau Sangihe, Sulewesi Utara ini pertama kali ditemukan tahun 1995. Sempat masuk dalam daftar burung yang dilindungi, Anis-bentet Sangihe kemudian dikeluarkan dari daftar tersebut pada September 2018 melalui Perarutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 20/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/8/2018. Keputusan ini mendapat banyak kritik terutama dari peneliti burung mengingat IUCN memasukkan burung ini dalam red list dengan status kritis.

Menurut Ganjar Cahyo Aprianto, seorang peneliti dari Burung Indonesia, jumlah anis-bentet sangihe hanya 50 hingga 249 ekor saja. Dia juga menyebutkan bahwa burung yang yang ukuran tubuhnya sekitar 17 sentimenter ini hanya dapat berkembang biak di alam.

BACA JUGA:
Sudah Tahu? Kura-Kura Berleher Ular Terancam Punah. Inilah Penyebabnya!

Tidak hanya masalah penangkapan dari alam secara berlebihan, habitat asli burung ini yakni di kawasan Gunung Sahendaruman juga terancam dari alih fungsi hutan.

Poksay mantel (Garrulax palliatus)

Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Poksay mantel. Foto: Matthew Kwan

Poksay mantel adalah burung yang habitatnya di hutan hujan daerah Sumatera dan Kalimantan. Burung ini termasuk burung monomorfik. Itu artinya burung jantan memiliki ciri fisik yang mirip dengan betina dan yang menjadi pembeda hanyalah suaranya. Burung betina memiliki suara panggilan yang monoton, sedangkan burung jantan dapat berkicau dengan lantang, Kicauan itulah yang membuat orang tertarik untuk memelihara burung pemakan serangga dan biji-bijian ini.

Banyak juga lomba kicau burung yang diadakan untuk poksay mantel. Penghobi burung juga sering memanfaatkan poksay mantel sebagai bahan isian untuk memancing burung kicau lain. Di balik keteranan kicauannya, ada sebuah fakta yang tidak boleh dilupakan yakni populasinya di alam yang semakin meresot.

Dalam pengamatan yang dilakukan oleh Burungnesia sejak 2016 hingga 2020 di 27 ribu lebih lokasi, hanya ada satu poksai mantel yang ditemukan di alam bebas. Sedangkan, jumlah burung yang di kandang ada 2.601 ekor. European Journal of Wildlife Research menyebutkan bahwa Medan, Jakarta, Cirebon, dan Denpasar menjadi kota dengan perdagangan poksai mantel tertinggi sejak tahun 1991 hingga 2020.

Meski keberadaan poksai mantel semakin langka, burung kicau jenis poksay ini masih belum masuk dalam daftar spesies yang dilindungi. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memang mengatur dan mengontrol perdagangan burung ini tetapi nyatanya angka perdangangan tetap tinggi. Masih dari penelitian yang sama di European Journal of Wildlife Research, pada tahun 2018 pemerintah menetapkan kuota sebanyak 150 untuk Jambi. Namun kenyataannya, penjualan malah meningkat tiga kali lipat dari kuota yang telah ditentutkan.

BACA JUGA:
Mengenal Anjing Ajag, Satwa Dilindungi yang Sering Dianiaya

Cuca rawa (Pycnonotus zeylanicus)

Nasib 5 Burung Kicau dengan Populasi Rendah Namun Tidak Dilindungi
Cuca rawa. Foto: Flickr/Johnny Wee

Terakhir, kurang pas rasanya jika tidak membahas tentang burung kicau yang sangat popular ini. Dalam hal populasi dan perdagangan, nasib cuca rawa sebenarnya kurang lebih sama dengan murai batu. Menurut laporan Burungnesia, saat ini cuca rawa sudah sangat sulit ditemukan baik di hutan yang berada di Sumatera, Jawa, maupun Kalimantan. Dari 27 ribu lebih lokasi pengamatan, jumlah cuca rawa yang ditemukan adalah 0 atau tidak ada sama sekali.

Menurut Dewi Malia yang merupakan seorang peneliti burung dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), perdagangan memang menjadi ancaman utama bagi populasi cuca rawa dan beberapa burung kicau lainnya. Ia menilai bahwa saat ini penangkapan burung dari alam sudah terlalu berlebihan.

Cucak rawa sebenarnya sempat termasuk ke dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 tahun 2018. Sayangnya, dua bulan setelah peraturan itu diterbitkan, burung ini langsung dikeluarkan dari daftar jenis burung yang dilindungi.

Laporan lain yang dikutip dari Media Indonesia menyebutkan bahwa saat ini jumlah populasi cuca rawa di alam diperkirakan sekitar 600–1.700 ekor saja. Daerah sebarannya mencakup Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, termasuk Brunei Darussalam, Sabah, serta Sarawak.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments