Opini  

Nasib Primata Kini

Perburuan monyet ekor panjang. | Foto: Action for Primates
Perburuan monyet ekor panjang. | Foto: Action for Primates

Gardaanimalia.com – Mari mengenal primata non-manusia. Siapakah mereka? Dan apakah di antara kalian ada yang pernah bertemu dengannya?

Primata non-manusia (non human primate) merupakan kelompok mamalia yang terdiri dari simian (monyet dan kera), dan prosimian (kelompok primata sebelum kera, contohnya lemur, tarsius dan kukang).

Lebih jauh lagi, monyet dibagi menjadi dua subkelompok: Old world monkey yang berasal dari Afrika dan Asia, dan New world monkey yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan.[1]https://ec.europa.eu/health/scientific_committees/opinions_layman/en/non-human-primates/l-2/1-use-eu.htm#:~:text=Non%2Dhuman%20primates%20are%20a,from%20Central%20and%20South%20America.

Mereka adalah kerabat biologis terdekat manusia, memberikan pandangan wawasan tentang evolusi manusia, biologi, dan perilaku, serta berperan penting dalam mata pencaharian, budaya dan agama banyak masyarakat.[2]Alejandro Estrada, Paul A. Garber, Sidney Gouveia, Álvaro Fernández-Llamazares, Fernando Ascensão, Agustin Fuentes, Stephen T. Garnett, Christopher Shaffer, Júlio Bicca-Marques, Julia E. Fa, … Continue reading

Namun sayangnya, banyak dari primata non-manusia dimanfaatkan untuk kebutuhan dan kesenangan dari manusia, mulai dari objek foto, peliharaan, hingga subjek percobaan penelitian.

Betapa mudahnya manusia yang berada pada tingkat trofik paling tinggi dan punya akal, menggunakan hewan-hewan yang pada dasarnya memiliki hak hidup bebas juga.

Manusia juga yang menyebabkan hutan yang merupakan rumah asli primata, dibabat habis atau dijadikan kebun dan pemenuhan kebutuhan manusia lainnya yang semakin membludak.

Untuk apa saja primata non-manusia dimanfaatkan?

Banyak. Demi cuan dan kesenangan misalnya. Seperti sektor pariwisata di Thailand menggunakan bayi owa (Hylobates spp.) dan kukang (Nycticebus spp.) sebagai properti foto, dan jenis monyet lainnya dimanfaatkan untuk pertunjukkan.[3]Osterberg, P. & Nekaris, K.A.I. 2015. The Use of Animals as Photo Props to Attract Tourist in Thailand: A Case Study of the Slow Loris Nycticebus spp.. TRAFFIC Bulletin Vol. 27 No. 1 (2015).

Sementara di Indonesia, bayi-bayi primata dijadikan peliharaan, dimasukkan ke dalam kandang dan didandani layaknya boneka sendiri, kemudian diekspos melalui media sosial hanya untuk pamer dan mengikuti tren semata.[4]https://mojok.co/terminal/pelihara-primata-buat-pamer-di-medsos-nggak-semenyenangkan-itu/[5]https://skhb.ipb.ac.id/tren-memelihara-satwa-primata-dan-pengaruhnya-terhadap-manusia-maupun-lingkungan/ Belum lagi topeng monyet yang masih ditemukan pada beberapa titik tempat di Pulau Jawa seperti Tasikmalaya, Garut, dan Tulungagung.

BACA JUGA:
Pedagang Berani Terang-terangan Jual Satwa Dilindungi, Apa yang Terjadi?
Kukang sebagai properti foto di Thailand. | Foto: Wild Heart
Kukang sebagai properti foto di Thailand. | Foto: Wild Heart

Selain untuk kesenangan individual, sektor biomedis memiliki jumlah permintaan terhadap primata non-manusia paling banyak. Biasanya diperuntukan sebagai subjek percobaan dan penelitian. Salah satu jenis primata yang kerap digunakan adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Indonesia sendiri merupakan salah satu eksportir monyet ekor panjang terbesar sejak tahun 1970, dan sejak tahun 2008 hingga 2019 tercatat telah mencapai 450.000 individu monyet ekor panjang yang diperdagangkan secara internasional.[6]T Sayektiningsih and B Broto 2021 IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 914 012013

Perdagangan internasional tersebut merupakan salah satu penyebab menurunnya populasi spesies yang dalam kurun waktu satu tahun ini meningkat dari status konservasi rentan (Vulnerable) pada tahun 2021 menjadi terancam (Endangered) pada tahun 2022.[7]https://www.iucnredlist.org/species/12551/199563077

Di beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Jepang, India dan Afrika, monyet dijadikan sebagai hidangan yang memiliki keunggulan atau nilai kepercayaan tersendiri.[8]https://food.detik.com/info-kuliner/d-5286244/daging-monyet-jadi-hidangan-yang-populer-di-5-negara-ini/2

Sama seperti beberapa daerah di Indonesia juga yang masyarakatnya masih mengonsumsi daging monyet ekor panjang dengan kepercayaan tertentu atau daging yaki untuk perayaan hari besar.[9]https://pbio.uad.ac.id/ancaman-kepunahan-primata-indonesia/]][[ https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Yaki_67053_unkris_p2k-unkris.html#Terancam

Bagaimana nasib primata non-manusia saat ini?

Mengingat maraknya atraksi topeng monyet, tren pemeliharaan, serta tingginya permintaan terhadap primata untuk dijadikan percobaan, bisa dibayangkan bagaimana nasib mereka kini.

Terlebih, jika kita melihat kondisi habitat satwa liar di Indonesia. Di mana luas hutan terus mengalami penurunan. Hilangnya habitat akibat deforestasi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor pemicu terancamnya primata. Ini diperkuat dengan prediksi para peneliti bahwa pada tahun 2050 terdapat 30 spesies primata di Indonesia akan punah.[10]Condro, A.A.; Prasetyo, L.B.; Rushayati, S.B.; Santikayasa, I.P.; Iskandar, E. Predicting Hotspots and Prioritizing Protected Areas for Endangered Primate Species in Indonesia under Changing … Continue reading

Deforestasi di Indonesia dari tahun 2001 sampai 2021. | Foto: Global Forest Watch
Deforestasi di Indonesia dari tahun 2001 sampai 2021. | Foto: Global Forest Watch

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Para peneliti memiliki beberapa gagasan, yaitu:

  1. Meningkatkan kesejahteraan manusia; dengan menekan angka kelahiran, meningkatkan tingkat kesehatan manusia, meningkatkan inisiatif sustainable land-use. Hal-hal tersebut membutuhkan edukasi, pemikiran ulang dari para pemerintah, NGO, dan sektor swasta;
  2. Perbesar kawasan yang dilindungi;
  3. Memperkenalkan konsep land-sharing dan land-sparing;
  4. Menggunakan teknologi baru dan tradisional untuk monitoring kerentanan populasi primata;
  5. Mitigasi perdagangan ilegal;
  6. Reintroduksi dan proteksi hutan jangka panjang sebagai alat konservasi; dan
  7. Mengurangi urban footprint pada habitat primata; dilakukan dengan cara mengurangi permintaan terhadap kayu keras, mineral, bahan bakar fosil, dan hal lainnya yang dapat mengurangi tekanan habitat pada primata.
BACA JUGA:
Sebuah Upaya Mencegah Gelombang Kepunahan Primata Indonesia

Sementara, hal-hal kecil yang bisa kita lakukan adalah mengedukasi orang sekitar mengenai: (1) Jangan pelihara primata; (2) Jangan membeli primata; (3) Jangan ikut-ikutan tren foto dengan primata; dan (4) Jangan ikut menonton dan mendukung sirkus/ topeng monyet.

Sadar atau tidak, kalau kita melakukan tindakan tersebut, secara tidak langsung kita sudah merampas hak hidup dan hak kebebasan primata. Dengan begitu, maka akan menambah jejak kecil untuk menuju kepunahan spesies.

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments