Penyelundupan Trenggiling dari Indonesia Tingkatkan Resiko Pandemi Virus Corona?

Penyelundupan Trenggiling dari Indonesia Tingkatkan Resiko Pandemi Virus Corona?
Ilustrasi : Trenggiling Sunda (Manis javanica). Foto : Dan Challender

Gardaanimalia.com – Indonesia, yang hingga kini masih berjuang melawan COVID-19, harus ikut menghentikan perdagangan satwa liar di wilayahnya, terutama setelah pandemi virus SARS-CoV-2 meningkat tajam.

Menghentikan perdagangan satwa liar untuk mencegah pandemic virus ini perlu dilakukan Indonesia, karena mengancam perekonomian, kesehatan dan keamanan dunia.

Banyak peneliti dan ahli satwa liar mengatakan bahwa perubahan perilaku manusia seperti perdagangan satwa liar serta penghancuran habitat satwa, telah memicu penyebaran virus bersifat zoonosis ini.

Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu sumber perdagangan satwa liar baik secara internasional, seperti Harimau, Beruang madu, berbagai jenis primata, Burung, Reptil, Kelelawar dan Trenggiling.

Trenggiling, bersama dengan Kelelawar, merupakan jenis satwa yang diduga merupakan inang dari virus SARS-CoV-2, seperti yang dilaporkan peneliti. Kedua jenis satwa liar ini sebisa mungkin dibiarkan di habitatnya dan tidak diperdagangkan di pasar-pasar.

Peneliti Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra mengatakan bahwa trenggiling merupakan kandidat kuat inang perantara virus corona. Ia menuturkan ada kesamaan material genetik virus corona yang diambil dari tubuh pasien dan trenggiling

“Jadi dugaannya¬†coronavirus¬†memang dari kelelewar. Kemudian perantaranya adalah trenggiling,” ujarnya dikutip dari CNNindonesia.

Banyak satwa liar, seperti Trenggiling, diburu dan diperdagangkan dari hutan Indonesia untuk kebutuhan konsumsi, dan obat-obatan. Salah satu negara penerima pasokan satwa liar dari Indonesia adalah China.

Meskipun belum ada data lengkap mengenai populasi trenggiling di Indonesia, terdapat bukti perburuan skala profesional dan komersial untuk tujuan perdagangan internasional.

Dalam laporan Traffic sepanjang tahun 2010-2015, tercatat sebanyak 23,205 Trenggiling berhasil diamankan dari 92 kasus perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia. Hampir seluruh kasus ini memiliki hubungan dengan penyelundupan Trenggiling dari Indonesia ke luar negeri, seperti China, Taiwan, Malaysia dan Vietnam.

BACA JUGA:
Gakkum KLHK OTT Penjual Lidah dan Sisik Trenggiling

Perdagangan ilegal Trenggiling yang diselundupkan ke China dapat meningkatkan resiko munculnya wabah baru virus corona seperti COVID-19.

Selain itu, peneliti percaya bahwa virus yang telah mengubah kehidupan jutaan manusia ini memiliki keterkaitan dengan perdagangan satwa liar, seperti yang terjadi di Pasar Wuhan, China.

Kebiasaan warga Cina yang senang mengkonsumsi daging satwa liar diduga menjadi pemicu mutasi virus corona, yang terdapat pada satwa liar, sehingga menyerang sistem pernafasan manusia.

Pemerintah China sendiri telah mengeluarkan larangan perdagangan satwa liar di pasar-pasar untuk sementara.

Namun sayangnya, Pasar Wuhan yang sempat ditutup pada 1 Januari 2020 lalu kini mulai beroperasi kembali. Pembukaan kembali pasar satwa liar meningkatkan potensi wabah seperti COVID-19 akan kembali terulang.

Apabila Indonesia tidak menutup jalur perdagangan satwa liar secara tegas, maka secara tidak langsung Indonesia mendukung kemungkinan terjadinya kembali wabah virus di China yang akan berimbas secara global.

Langkah ini sekaligus dengan meningkatkan penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa liar sesuai dengan Undang-Undang konservasi, yang melarang perburuan dan perdagangan satwa dilindungi, seperti Trenggiling.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments