Opini  

Sering Jadi Hewan Uji Coba, Bagaimana Kesejahteraan Monyet?

Sering Jadi Hewan Uji Coba, Bagaimana Kesejahteraan Monyet?
Monyet sebagai hewan uji coba. Foto: Unilad.co

Gardaanimalia.com – Selama bertahun-tahun, monyet telah menjadi hewan uji coba. Belakangan, China sebagai negara juga sering menggunakan monyet untuk animal testing diberitakan mengalami kekurangan monyet untuk uji coba termasuk untuk menemukan vaksin Covid-19. Peningkatan permintaan terhadap primata ini sebagai hewan uji coba oleh peneliti terus meningkat meski sudah ada larangan impor dan harganya yang lebih tinggi.

Mengutip data China Laboratory Primate Breeding and Development Association, penggunaan monyet sebagai hewan uji coba meningkat dari sekitar 8.000 pada 2013 menjadi sekitar 30 ribu pada 2019. Sangat siginifikan bukan jumlah peningkatannya?

Apa itu hewan uji coba atau animal testing?

Animal testing sebenarnya sudah lama dilakukan yakni sejak zaman Yunani kuno. Hewan uji coba adalah hewan yang biasa digunakan sebagai bahan uji coba pada eksperimen atau penelitian hewan dengan tujuan sebagai pengujian keamanan suatu obat, vaksin, ataupun kosmetik yang akan digunakan kepada manusia (Forschungsgemeinschaft, 2007). Perlakuan pada hewan uji coba ini bisa saja mengakibatkan rasa sakit, penderitaan, atau bahkan kerusakan organ tubuh hewan tersebut.

Cukup banyak jenis hewan uji coba yang digunakan sebagai bahan utama penelitian salah satunya adalah monyet. Primata ini dianggap sebagai hewan yang sangat tinggi nilainya karena kemiripan anatomi, fisiologi, psikologi, dan tingkah laku yang mendekati manusia (Mansjoer, 1996). Alasan inilah yang menjadikan monyet sebagai hewan uji coba yang cukup populer.

Sering Jadi Hewan Uji Coba, Bagaimana Kesejahteraan Monyet?
Monyet uji coba. Foto: Vice

Pada tahun 2019 silam diberitakan oleh Mongabay sebuah video tersebar bahwa di laboratorium di Jerman melakukan uji coba pada monyet kecil dengan semena-mena. Dalam video tersebut monyet menangis dan menjerit kesakitan ketika digantung pada sebuah sabuk besi logam yang diikatkan di lehernya. Diperlihatkan pula satwa lainnya yang dikurung dalam sangkar kecil yang mengakibatkan satwa tersebut menjadi gila.

BACA JUGA:
Diduga Kelaparan, Monyet Ekor Panjang Masuk Perumahan Warga

Animal testing yang tentunya menimbulkan beberapa dampak pada hewan uji coba memunculkan kontroversi dan pendapat pro serta kontra. Perdebatan ini  mulai muncul secara massif pada tahun 1860-an di Amerika Serikat (John, 1991). Masyarakat mulai menyadari bahwa meneliti tentang kesehatan dan obat-obatan untuk kepentingan manusia tidak semestinya membahayakan hewan apapun.

Baca juga: Ketika Monpai Diajak Alih Profesi dari Topeng Monyet ke Youtuber

Beberapa argumen yang menentang animal testing mengatakan bahwa tindakan ini membuat hewan menderita. Hewan kehilangan kebebasan dan tidak berdaya dalam melindungi hidup mereka sendiri. Terlebih lagi, animal testing tidak adil karena akan membawa penderitaan bagi hewan. Pendapat lain juga mengatakan bahwa uji coba terhadap hewan manfaatnya tidak terbukti 100% berhasil pada manusia serta banyak obat yang efektif untuk hewan tetapi belum tentu efektif untuk manusia (Amazine, 2015).

Adanya perbedaan argumen memunculkan prinsip 3R yang isinya:

  1. Replacement yang artinya hewan dapat digantikan dengan metode kultur sel atau jaringan dan dapat pula dilakukan menggunakan hewan dengan ordo rendah seperti pada jamur dan bakteri.
  2. Reduction yang artinya dalam penelitian memanfaatkan hewan uji coba seminimal mungkin namun dengan hasil yang optimal.
  3. Refinement yang artinya memperlakukan hewan uji coba secara manusiawi dalam pemeliharaan seperti tidak memakai kandang yang kecil dan hewan diberikan makanan dengan teratur serta meminimalisir perlakuan menyakitkan dalam pelaksanaan penelitian untuk menjamin kesejahteraan hewan tersebut.

Selain dari prinsip 3R muncul juga prinsip lainnya yang dikenal sebagai 5F atau five freedom yang terdiri dari:

  1. Freedom from hunger and thirst, maksud dari poin ini adalah selama hewan dipelihara mereka memiliki hak untuk bebas dari rasa lapar maupun haus.
  2. Freedom from pain, injury and diseases, hewan tidak dibiarkan merasakan sakit, luka maupun bebas dari penyakit.
  3. Freedom from fear and distress, hewan bebas dari rasa takut dan stress yang bisa timbul akibat perlakuan sebelum maupun saat penelitian berlangsung.
  4. Freedom from discomfort, hewan bebas dari rasa tidak nyaman dengan memberikan naungan serta memfasilitasi kebutuhan hewan sebagaimana mestinya.
  5. Freedom to express natural behavior, bebas untuk mengekspresikan tingkah-laku alamiah serta memberikan ruang gerak terhadap hewan.
BACA JUGA:
Ketika Monpai Diajak Alih Profesi dari Topeng Monyet ke Youtuber

Indonesia sendiri dulu sempat menjadi salah satu ekportir monyet ke Amerika Serikat dan China. Namun, kemudian hal ini dihentikan karena Indonesia dipandang gagal menaati regulasi International Trade in Endangered Spesies (CITES) serta melanggar pedoman perlindungan satwa internasional. Saat ini monyet menjadi hewan uji coba yang cukup vital dalam upaya manusia melawan virus Covid-19 dan Indonesia kembali dilirik sebab dinilai memiliki potensi besar untuk membudidayakan monyet sebagai model dalam penelitian biomedis.

Lisensi dan Pengawasan Ketat terhadap Praktik Animal Testing

Sering Jadi Hewan Uji Coba, Bagaimana Kesejahteraan Monyet?
Ilustrasi monyet untuk animal testing. Foto: Upworthy

Berbagai agumen pro dan kontra menjadikan kondisi dilema pada animal testing. Jalan tengah yang dapat dilakukan  dengan menguatkan prinsip kesejahteraan hewan pada penggunaan animal testing. Seperti yang sudah dijelaskan pada prinsip 3R dan 5F, hewan yang dijadikan testing harus tetap diperhatikan kondisinya dan tidak serta merta memperlakukannya semena-mena demi kepuasaan manusia sendiri.

Diperlukan lisensi peneliti saat menggunakan hewan sebagai uji coba. Peneliti harus mampu menjelaskan jumlah hewan yang akan digunakan, bagaimana tingkat kesakitan yang akan dialami hewan tersebut, seperti apa prosedur yang akan dilakukan, tindakan apa yang akan dilakukan terhadap hewan setelah penelitian selesai dilakukan, manfaat apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut, serta adakah pengalaman kompeten peneliti pada penggunaan terhadap hewan uji coba sebelumnya.

Terakhir, pada pemeliharaan hewan juga harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman di bidang tersebut. Hal ini dilakukan agar meminimalisir penderitaan hewan namun tetap mendapatkan hasil yang maksimal dalam penelitian. Perlu dipastikan pula bahwa hewan yang digunakan bukanlah satwa yang diambil dari alam.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments