Penyu Hijau, Penyu Terbesar yang Kini Terancam Punah

  • 2
    Shares

Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu penyu terbesar di dunia. Nama penyu ini diambil dari warna bagian telinganya yang kehijauan, meski kebanyakan warna tubuh penyu hijau berwarna coklat atau kuning kehijauan.

Keberadaan Penyu hijau (Chelonia mydas) tersebar luas di lautan tropis dan sub tropis seluruh dunia. Dari segi ekologis, penyu hijau sendiri mempunyai peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir dan hamparan lamun. Kegiatan penyu yang memakan lamun dapat menambah produktivitas lamun.

Hamparan lamun sendiri merupakan rumah bagi banyak satwa laut lainnya, lamun juga sering digunakan ikan untuk bertelur dan pemijahan. Penyu menahan pertumbuhan lamun untuk tumbuh terlalu rimbun, sehingga tidak menghalangi sinar matahari menembus ke dalam laut, yang berguna untuk menunjang kehidupan ikan dan satwa laut lainnya.

Namun sayangnya kini kehidupannya terancam punah diakibatkan perburuan liar yang berlebihan dan kerusakan habitatnya.

Dengan ukuran tubuh yang besar dan bentuk karapak yang indah, Penyu hijau (Chelonia mydas) kerap diburu untuk dikonsumsi (baik daging dan telurnya), dibuat perhiasan, cinderamata dan juga hiasan dinding.

Dilansir dari WWF Indonesia, diperkirakan setiap tahunnya 100,000 penyu dibunuh di kepulauan Indo-Australia. Apabila tidak dihentikan dari sekarang, kemungkinan populasi penyu akan terus berkurang dan berakhir dengan kepunahan.

Aktivitas manusia di perairan juga tak pelak mengganggu kehidupan dan habitat penyu hijau. Banyaknya kegiatan penangkapan ikan di zona konservasi atau penggunaan jaring yang tidak ramah lingkungan membuat banyak penyu yang terjaring tangkapan nelayan.

Belum lagi perambahan pesisir laut yang menganggu kegiatan bertelur penyu, banyak masyarakat yang mengambil telur-telur penyu untuk kemudian dijual di pasar tradisional, ataupun diekspor untuk kebutuhan konsumsi.

Banyaknya pengrusakan ekosistem laut seperti hamparan lamun dan terumbu karang oleh manusia juga membuat penyu hijau kesulitan untuk mencari makanan.

Faktor alami seperti penyakit dan gangguan predator darat juga tak pelak menambah faktor terbunuhnya penyu di alam. Di beberapa kawasan, anjing liar merupakan ancaman utama bagi telur dan tukik.

Padahal dari ratusan anak tukik yang berhasil menetas, kemungkinan hanya dua yang berhasil selamat dan berkembang hingga dewasa.

Penyu hijau masuk ke dalam Permen LHK no. P92 tahun 2018 yang berstatus satwa dilindungi di negara Indonesia.

Satwa ini juga masuk ke dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status terancam (Endangered, EN) dan juga masuk daftar Appendix 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti pemanfaatannya sama sekali tidak diperbolehkan kecuali untuk beberapa kasus tertentu.

Indonesia sebagai negara habitat penyu hijau harus turut melestarikan kehidupan satwa ini agar kedepannya kehidupan laut dapat terjaga keseimbangannya.

Populasinya yang semakin berkurang bahkan terancam punah perlu mendapat perhatian pemerintah.

 

Sumber : WWF Indonesia, Profauna, Republika 


  • 2
    Shares

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 + three =