Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini

Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini
Macaca Maura, kera hitam endemik Sulawesi Selatan. Foto: Wikipedia/Fachreza25

Gardaanimalia.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan biodiversitas terestrial tertinggi kedua di dunia. Namun, konservasionis meyakini indeks biodiversitas tersebut turun dikarenakan perambahan hutan. Eksistensi satwa liar pun ikut terancam.

Menurut Dekan Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Dr. Budi S. Daryono., M.Agr., Sc., status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan. Kondisi serupa terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar.

Hal tersebut juga didukung dengan pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya. Ia menyebutkan kejahatan satwa liar menduduki peringkat ketiga di Indonesia setelah kejahatan narkoba dan perdagangan manusia.

Untuk menekan kasus perdagangan maupun tindak kejahatan terhadap satwa yang tinggi tersebut dibutuhkan partisipasi berbagai pihak termasuk kita sebagai masyarakat. Salah satu langkah awal yang nyata dan terukur adalah dengan menjadikan pendidikan konservasi satwa liar pada anak usia dini sebagai ujung tombak pergerakan. Pendidikan tersebut bertujuan sebagai tindakan preventif yang akan memiliki efek jangka panjang.[1]Purmadi, R.M., Santika, D.M.J. and Wulandari, A.S., 2020. Pentingnya Pendidikan Konservasi Untuk Menjaga Lingkungan Hidup (Studi Kasus di Desa Cidahu, Kabupaten Kuningan). Jurnal Pusat Inovasi … Continue reading

Anak usia dua hingga enam tahun sedang berada dalam masa emas. Anak dapat menerima dan mengolah informasi secara pesat dan bertahan dalam waktu yang lama. Jadi, pendidikan konservasi satwa liar pada anak usia dini diharapkan memiliki imbas yang signifikan karena menyasar aspek kognitif, afektif dan psikomotorik seorang individu dengan tepat.

Aspek Kognitif

Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini
Ilustrasi Owa jawa. Foto: Wikipedia/Ariel Afrido Muhammad

Pendidikan konservasi satwa liar menyasar aspek kognitif yakni kemampuan untuk mengerti, memahami dan memiliki gambaran terhadap sesuatu.[2]Sari, T.A. and Soenarno, S.M., 2018. Pendidikan dan Pelatihan Konservasi Alam Bagi Siswa dan Guru SD Melalui Metode Learning By Game. In Proceeding Seminar Nasional Jurusan Pendidikan Biologi. … Continue reading Dalam hal ini, anak dapat diperkenalkan dengan spesies yang umum ditemukan di lingkungan sekitar. Setelah itu, anak diperkenalkan dengan spesies kunci serta peran ekologis satwa-satwa tersebut.

Baca juga: Perdagangan Ilegal Satwa Liar Marak Dijumpai, Ini Penyebab Utamanya

Pengenalan satwa kepada anak tidak terbatas pada nama. Anak akan diajak untuk memahami secara lebih mendalam bahwa masing-masing satwa memiliki tugas tertentu yang spesifik di alam. Misalnya, pengenalan satwa Owa jawa (Hylobates moloch) yang berperan sebagai penyebar biji agar pohon-pohon di hutan dapat tumbuh kembali. Dengan demikian, anak akan memperoleh informasi nama dan mengaitkannya dengan tujuan eksistensi satwa di Bumi.

Aspek Afektif

Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini
Ilustrasi Burung enggang cula. Foto: Flickr/Steve Wilson

Setelah menyasar aspek kognitif, selanjutnya adalah aspek afektif atau emosi. Adanya emosi atau rasa keterikatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa saling tergantung dengan makhluk hidup lainnya. Anak akan menyadari bahwa manusia membutuhkan satwa-satwa liar untuk tetap melangsungkan kehidupan.

Hal ini dapat diajarkan dengan menampilkan video satwa yang berada habitat asli. Contohnya, menonton video Burung enggang yang bersarang di hutan tropis dan bertugas sebagai pemencar biji pepohonan besar dalam radius yang luas. Konsep kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengertian bahwa satwa yang hidup di habitat asli memang sudah seharusnya tetap berada di sana untuk melaksanakan tugasnya.

Aspek Psikomotorik

Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini
Ilustrasi sampah yang dibuang sembarangan. Foto: pixnio.com

Yang terakhir ialah psikomotorik. Ini adalah bagian dari perkembangan individu berdasarkan hasil pengolahan kognitif dan afektif yang kemudian menghasilkan gerak fisik berupa perilaku.[3]Nur, L., Hafina, A. and Rusmana, N., 2020. Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini Dalam Pembelajaran Akuatik. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan10(1), pp.42-50. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melatih anak untuk membedakan dan membuang sampah pada tempatnya. Kemampuan untuk membuang sampah pada tempatnya dimaksudkan supaya anak paham bahwa Bumi adalah milik bersama dan harus dijaga sebaik-baiknya. Sampah yang dibuang secara sembarangan akan membahayakan lingkungan dan satwa yang juga penghuni Bumi. Berikan penjelasan bahwa sampah yang dibuang sembarang bisa saja dikonsumsi satwa liar hingga dikhawatirkan menyebabkan kematian pada satwa tersebut.

Pengetahuan tentang jenis dan peran satwa, rasa keterikatan secara emosional dengan satwa liar, dan perilaku bertanggung jawab yang ditanamkan sejak usia dini dapat membentuk generasi baru yang benar-benar peduli dengan konservasi dan bumi. Angka kepunahan satwa liar yang sudah mencapai 1 juta secara global diharapkan tidak akan terus bertambah karena kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap satwa liar sudah ditanamkan sejak dini.

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback
8 months ago

[…] Baca juga: Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini […]