Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah

  • Share
Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah
Orangutan merupakan kera terbesar di dunia yang terancam punah karena rusaknya habitat dan perdagangan ilegal satwa liar. Foto: Pixabay.com/Lindy15

Gardaanimalia.com – Siapa yang tidak kenal dengan Orangutan? Namun, mungkin tidak banyak yang sadar jika Orangutan merupakan satwa endemik Indonesia. Nah, sebagai orang Indonesia, kamu tentunya harus mengenal si kera besar satu-satunya di Asia ini.

Di Indonesia, ada tiga spesies Orangutan yaitu Orangutan sumatra (Pongo abelii), Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Selain habitat asalnya, ketiga spesien Orangutan ini memiliki beberapa perbedaan mendasar. Ayo kita lihat, apa saja sih perbedaannya!

Orangutan sumatra

Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah
Orangutan sumatra. Foto: Wikimedia.org/Greg Hume

Orangutan sumatra mungkin memiliki bentuk wajah yang paling ‘familiar.’ Para pejantan dewasa memiliki bantalan pipi yang menggelambir ke bawah dan dagu yang panjang. Dengan bentuk tersebut, wajah mereka menjadi lebih oval daripada jenis orangutan lainnya.

Tubuh mereka juga lebih kecil jika dibandingkan dengan Orangutan kalimantan. Orangutan sumatra yang sudah dewasa, biasanya memiliki bobot maksimal hinggal 90 kilogram saja.

Rambut mereka cenderung lebih panjang, tebal dan warnanya juga lebih terang. Mereka juga biasa hidup dengan bergelantungan di atas pohon karena tinggal di wilayah hutan hujan tropis yang didominasi pohon yang tinggi.

Sayangnya, saat ini primata pemakan buah-buahan ini sudah terancam punah. Menurut IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi Orangutan sumatra telah berkurang sebanyak 80%. Diperkirakan, pada tahun 2019 lalu, Orangutan sumatra hanya tinggal 14.500 ekor saja sesuai data dari Orangutan Information Centre (OIC).

Orangutan kalimantan

Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah
Orangutan kalimantan. Foto: Flickr.com/Christopher Michel

Jika Orangutan sumatera memiliki rambut berwarna coklat terang-jingga, maka Orangutan kalimantan terkenal dengan rambutya yang berwarna lebih gelap dan kemerahan. Selain tubuh mereka yang hampir dua kali lipat lebih besar, Orangutan kalimantan juga memiliki wajah yang bulat karena bantalan pipi yang melebar.

Karena tubuhnya yang lebih besar, Orangutan kalimantan cenderung lebih suka melakukan aktivitas di tanah. Meski terkadang, mereka akan bergelantungan di dahan-dahan pohon hutan rawa gambut.

Makanan yang disukai primata asal kalimantan lebih variatif. Selain memakan buah-buahan, mereka juga sangat menyukai biji-bijian, pucuk daun, kulit pohon yang lunak, dan serangga.

Meski jumlah mereka lebih banyak daripada Orangutan sumatra, namun Orangutan kalimantan juga terancam dari kepunahan. Berdasarkan data Forum Orangutan Indonesia (Forina), saat ini diperkirakan jumlah Orangutan kalimantan hanya tinggal 57 ribu saja.

Orangutan tapanuli

Pada 2017 lalu, muncul kabar baik dari kawasan Batang Toru, Sumatera Utara. Seorang profesor di bidang Bio-antropoligi dari Australia Nation University, Anton Nurcahyo, berhasil menemukan spesies orangutan baru yang diberi nama Orangutan tapanuli.

Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah
Orangutan tapanuli. Foto: Wikimedia.org/Tim Laman

Sebenarnya, Nurcahyo dan tim sudah memulai penelitian ini sejak 2003 lalu. Namun, mereka baru berhasil membuktikan jika genetik Orangutan tapanuli berbeda dengan dua spesies lainnya setelah 14 tahun kemudian.

Secara fisik, Orangutan tapanuli terkesan seperti perpaduan antara Orangutan sumatra dan Orangutan kalimantan. Wajahnya mirip dengan Orangutan kalimantan, namun bentuk tubuhnya lebih mirip dengan Orangutan Sumatra.

Yang membuat Orangutan tapanuli terlihat berbeda adalah rambutnya yang lebih lebat, keriting, dan memiliki kumis serta jenggot berwarna terang. Dengan rambut yang kusut dan suara yang lebih nyaring, orangutan Tapanuli ini benar-benar terlihat unik.

Sayangnya, ‘Si Bungsu’ ini justru nasibnya jauh lebih tragis daripada kedua kakaknya. Saat ini, diprediksi  jumlah Orangutan tapanuli hanya tinggal 800 ekor saja. Populasi kecil ini tinggal dalam kawasan seluas 1.100 km2 di hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Apa sih yang membuat orangutan terancam punah di rumah sendiri?

Orangutan memang merupakan hewan khas Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Indonesia. Namun, meski masih tinggal di ‘tanah sendiri,’ para orangutan itu justru menjadi korban ‘penjajahan’ manusia.

Hutan yang merupakan rumah mereka, kini banyak yang diambil alih oleh manusia untuk dijadikan ladang, perkebunan, hingga pertambangan. Banyak juga manusia tidak bertanggung jawab yang melakukan penebangan hutan liar.

Akibatnya, hutan menjadi semakin sempit. Keluarga orangutan yang tadinya bisa hidup tenang bersama anak-anaknya, kini menjadi terdesak. Dengan rumah yang sudah rusak dan pasokan makanan yang menipis, mereka terpaksa merangsek masuk ke ladang milik manusia.

Orangutan yang hanya ingin mencari makan itu pun dianggap sebagai hama oleh manusia. Pada akhirnya, para manusia yang menjajah wilayah hutan ini tak segan-segan memberikan hukuman keji dan membunuh orangutan. Sebagian masyarakat di daerah tertentu menjadikan Orangutan sebagai bahan makanan.

Mengenal Orangutan, Si Kera Besar yang Terancam Punah
Orangutan dimasukkan dalam keranjang, rencananya primata ini akan diselundupkan dari Bali, Indonesia ke Rusia pada Sabtu, 23 Maret 2019. Foto: Dok. Karantina Denpasar

Padahal, Mereka memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Menurut Jurnal Ilmu Kehutanan, satu ekor Orangutan dapat menjelajah hutan seluas 0,7 – 26 hektar setiap harinya. Semakin luas daya jelajahnya, maka semakin terjaga keanekaragaman hayati di wilayah tersebut seperti yang dikatakan Sri Suci Utami Atmoko, Direktur Pusat Riset Primata UNAS.

Orangutan tercantum dalam Appendiks I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka (CITES), yang berarti perdagangannya dilarang berdasarkan hukum internasional. Namun, ada permintaan lokal, nasional, dan internasional yang sangat besar untuk memelihara bayi orangutan sebagai satwa peliharaan. Kepemilikan Orangutan biasa dijadikan simbol status oleh para pemiliknya.

Kejamnya, para pemburu umumnya membunuh sang induk terlebih dahulu sebelum mengambil bayi orangutan untuk diperdagangkan. Harganya yang tinggi diduga menjadi salah satu faktor banyaknya perburuan dan perdagangan primata ini. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan satu ekor anak orangutan harganya dapat mencapai 30 ribu dolar AS atau setara Rp 400 juta di pasar internasional.

Orangutan bukan satwa yang bisa dipelihara di rumah. Sebab, 97 persen DNA yang mereka miliki sama dengan manusia. Sehingga, manusia dan orangutan bisa saling menularkan penyakit dengan mudah. Beberapa penyakit menular seperti Tuberkulosis, Hepatitis, Typhoid, bakteri, virus, maupun infeksi saluran pernafasan dapat ditularkan dari manusia ke orangutan atau sebaliknya.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments