Gardaanimalia.com - Dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona atau pontensi zoonotik lainnya, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) menyurati beberapa kepala daerah terkait upaya penertiban dan penutupan pasar basah tradisional di beberapa daerah.
Surat tersebut ditujukan kepada Pemerintah Daerah Kota Denpasar, Kota Medan, Kota Surakarta, Kota Tangerang, Kota Tomohon, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Minahasa. Daerah-daerah tersebut memiliki kawasan pasar basah yang memperjualbelikan satwa liar.
Dalam surat yang dikeluarkan pada 11 Mei 2020 tersebut, KLHK meminta pemerintah daerah untuk melakukan penertiban, pemantauan, dan upaya sosialiasi terhadap para pedagang terkait penularan penyakit yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan satwa liar.
Selain itu, KLHK meminta dinas pasar untuk mengkaji dan mempertimbangkan penutupan pasar basah yang memperjualbelikan satwa liar untuk dikonsumsi.
Hal tersebut juga dilakukan dalam rangka menghentikan perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar yang masih marak terjadi di beberapa wilayah.
Beberapa pasar di Indonesia memiliki riwayat perdagangan satwa liar, seperti Pasar Satria di Denpasar, Bali dan Pasar Beriman di Tomohon, Sulawesi Utara.
Pasar-pasar tersebut memperdagangkan satwa liar baik sebagai bahan konsumsi maupun satwa peliharaan. Pasar Beriman Tomohon misalnya, sudah terkenal memperdagangkan satwa liar seperti kelelawar, monyet, dan ular untuk bahan konsumsi masyarakat lokal.
Satwa liar sebagai bahan konsumsi berpotensi sangat besar sebagai faktor penyebaran penyakit zoonosis berbahaya yang dapat melompat dari satwa yang sakit ke manusia. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu contoh penyebaran penyakit yang menyebabkan jutaan manusia terjangkit virus dari satwa liar. Terhitung pada Kamis, 14 Mei 2020, sebanyak 4,429,884 orang telah terjangkit, 1,659,797 telah sembuh dan 298,174 meninggal dunia akibat virus tersebut.
Potensi Penyebaran Penyakit
Keberadaan pasar basah dapat meningkatkan potensi penyebaran penyakit yang bersifat zoonosis. Virus corona atau coronavirus dapat menyebabkan penyakit seperti flu, demam hingga infeksi pernafasan. Virus ini umum ditemukan pada satwa seperti burung, reptil dan mamalia.
Satwa liar diduga menjadi faktor penyebaran virus ini ke manusia. Satwa liar yang dibawa dan diperjualbelikan di pasar baik untuk dikonsumsi maupun dipelihara dapat menjadi agen pembawa virus. Satwa liar diduga menjadi faktor penyebaran virus SARS-Cov-2 di Pasar basah Wuhan, China.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Nature berjudul "Isolation of SARS-CoV-2-related coronavirus from Malayan pangolins" menunjukkan bahwa virus SARS-Cov-2 yang baru ditemukan memiliki kemiripan dengan virus corona yang ditemukan pada satwa Trenggiling sunda (Manis javanica).
Satu virus corona yang diisolasi dari Trenggiling sunda menunjukkan kemiripan 100%, 98,6%, 97,8%, dan 90,7% pada identitas asam amino dengan SARS-CoV-2, masing-masing dalam gen E, M, N dan S.

Berita
Koalisi Reset Kehutanan Desak Rombak Total UU Kehutanan, Respons PKB: Hutan Kita Masalahnya Banyak
Nadaa•






![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)





