Kumpulan Pertanyaan untuk Para Pemelihara Satwa Liar
3 min read

Belum ada deskripsim Lorem ipsum dolor sit amet, corrupti tempore omnis esse rem.
Gardaanimalia.com – Belakangan banyak tren pemeliharaan satwa liar kian meningkat. Banyak pemelihara yang memakai dalih melindungi dan menyelamatkan satwa. Ada juga yang memelihara satwa demi pemenuhan hobi pribadi. Melihat tren tersebut, muncul beberapa pertanyaan yang akan cocok jika diajukan pada para pemelihara.
Apakah pemelihara satwa liar tahu darimana asal satwa dan bagaimana proses pengambilannya dari alam?
Sebelum memutuskan untuk memelihara satwa liar, pernahkan pemelihara menanyakan atau mencari tahu tentang asal satwa dan bagaimana proses penangkapannya dari alam? Apa hanya sekadar yang penting satwanya lucu dan mampu beli?
Untuk diketahui, demi memenuhi perminataan pasar, pemburu kerap kali menangkap satwa dari alam dengan proses yang kejam. Berdasarkan data International Animal Rescue (IAR) Indonesia tahun 2019 tercatat 80% satwa yang dijual secara online merupakan hasil tangkapan dari alam liar.((https://www.voaindonesia.com/a/pentingnya-penguatan-hukum-dalam-perlindungan-satwa-liar-di-indonesia/4825454.html))
Data lain menyebutakan, salah satu spesies dengan tingkat perburuan yang tinggi dengan tujuan dijadikan hewan peliharaan adalah spesies primata. Dari tahun 2018 tercatat 10 laporan kasus perburuan primata setiap bulannya. Data ini mengacu pada catatan Profauna tentang perburuan primata.((https://www.mongabay.co.id/2019/01/31/selamat-hari-primata-selamatkan-dari-perburuan/)) Target perburuan seringkali anak-anak primata yang masih belum bisa hidup mandiri karena dianggap lucu dan menggemaskan untuk dipelihara.
Anak-anak primata dipaksa berpisah dengan induknya bahkan pemburu tidak segan membunuh induk primata agar proses penangkapan lebih mudah dilakukan.Jadi, apakah para pemelihara mengetahui fakta tersebut atau hanya menutup mata saja selama ini?
Apakah pemelihara mengetahui dampak ekologis yang ditimbulkan setelah mengambil satwa liar dari alam?
Dampak yang diakibatkan sangat luas apabila kegiatan memelihara satwa liar masih terus berlangsung. Seiring waktu jumlah populasi satwa liar di alam akan terus menurun akibat perburuan liar. Hal ini mengakibatkan keanekaragaman fauna akan terus berkurang khususnya di Indonesia. Besar kemungkinan spesies tertentu akan mengalami kepunahan jika terus menerus dieksploitasi. Dampak secara tidak langsung juga akan terjadi seperti ketidakseimbangan populasi dalam rantai makanan akan menyebabkan jumlah populasi spesies lainnya menjadi tidak terkendali dan akhirnya menjadi hama bagi berbagai macam sektor kehidupan.
Apakah pemelihara sudah memikirkan masa depan satwa ketika sudah mulai besar, tidak lucu, dan kebutuhannya semakin banyak?
Pada dasarnya satwa liar tetaplah liar. Seiring bertambahnya usia, banyak satwa yang kemudian berubah menjadi agresif. Pada 25 April 2018 silam dua buaya peliharaan warga Sukoharjo, Jawa Tengah lepas dan masuk ke pemukiman warga karena dipelihara ditempat yang tidak memadai dan rentan lepas karena ukurannya semakin besar. Hal ini tentu sangat berbahaya.
Baca juga: Catatan Suram Penganiayaan Satwa Liar di Indonesia
Selain itu, beberapa satwa juga akan membutuhkan lebih banyak makanan. Dalam beberapa kasus, pemelihara akhirnya tidak sanggup lagi untuk memenuhi kebutuhan makanan satwa pemeliharaannya lalu membuang satwa tersebut sembarangan. Pada bulan Juli 2021 lalu seekor buaya ditemukan berada di selokan di wilayah kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pihak BKSDA menduga, satwa buas itu sengaja dibuang oleh pemiliknya yang tidak bertanggungjawab. Padahal prosedur pelepasliaran satwa liar tidak semudah itu.
Dua contoh di atas hanya sebagian kecil saja. Masih ada banyak lagi kasus penelantaran satwa dengan alasan sudah besar, tidak lucu, sudah agresif, makannya banyak, dan lain sebagainya.
Bagaimana jika satwa liar berubah ganas dan tidak terkendali?
Memelihara anak satwa liar tidak menjamin hilangnya sifat-sifat liarnya ketika usianya beranjak dewasa karena etiologi (perilaku) dan insting liar muncul seiring bertambahnya usia. Tidak mengherankan jika satwa berubah menjadi ganas atau buas. Apabila hal ini terjadi, pemelihara mungkin akan merasa terancam dan tidak dapat berinterakasi dengan satwa yang dipelihara. Solusi yang kerap dipilih yaitu mengurung, merantai, memukul, mencabut cakar dan gigi bahkan membunuh satwa yang telah berubah menjadi ganas agar tidak membahayakan pemiliknya.((http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/?p=825)) Ada pula yang akhirnya membuang satwa secara sembarangan tanpa prosedur yang tepat.
Bagaimana dampak negatif yang dialami satwa liar?
Dampak dan resiko yang sering diketahui akibat memelihara satwa liar sebagian besar dikaji dalam sudut pandang manusia. Satwa liar yang dipelihara dapat mengalami stress, trauma, gangguan perilaku bahkan kematian seperti halnya manusia yang mengalami berbagai tekanan/stress.
Satwa liar memiliki sifat alami yang sebagian besar tidak akan memperlihatkan atau menyembunyikan rasa atau tanda sakit. Sakit atau gangguan yang terjadi disebabkan satwa liar tidak mendapat kebutuhan nutrisi dan fisiologis secara menyeluruh akibat dipelihara dalam ruang yang terbatas. Pemelihara satwa liar seringkali tidak mengatahui kajian ini secara luas dan hanya sekadar membeli kemudian memelihara satwa untuk kebutuhan pribadi.
Apakah pemelihara menyadari bahwa hobi memelihara data menyebabkan epidemi bahkan pandemi?
Satwa liar dan manusia yang seharusnya tidak hidup bersama dapat mendorong proses penyebaran penyakit (zoonosis) yang dapat berkembang menjadi epidemi bahkan pandemi.((http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/?p=825)) Transminsi penyakit dapat terjadi akibat kontak langsung dan tidak langsung antara manusia dan satwa liar.
Fakta ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Dr. Shivaprakash Nagaraju, peneliti Nature Conservancy di India yang menyimpulkan bahwa seperempat mamalia (26,5%) dalam perdagangan illegal mengandung 75% virus zoonosis yang diketahui. Data penelitian ini juga menunjukkan virus yang terkandung lebih tinggi dibandingkan dengan mamalia (satwa liar) yang didomestikasi dan tidak diperdagangkan. Tentunya manusia menjadi faktor utama hal ini.
Konotasi negatif dapat muncul terhadap suatu spesies satwa yang diduga menjadi agen penyebaran penyakit yang pada mulanya diakibatkan oleh perilaku manusia itu sendiri seperti memakan dan memelihara satwa liar. Tanpa penanganan yang tepat peristiwa ini berujung pada pemusnahan suatu spesies tertentu yang berakibat pada penurunan populasi satwa liar atau kepunahan dan ketidakseimbangan ekosistem.
Jadi, apakah memelihara satwa liar masih bisa dibenarkan? Tentu tidak! Apapun alasannya.
Tags :
satwa liar primata pemelihara satwa
Writer:
Pos Terkait

Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu
26/03/25
Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika
22/03/25
Amankan Monyet Peliharaan, BKSDA Jelaskan Bahaya Domestikasi Satwa Liar
15/03/25
Berang-Berang Bukan Peliharaan! Kenali 4 Jenis yang Hidup di Indonesia
14/03/25
FLIGHT: Penyelundupan Burung Kicau sudah Seperti Minum Obat, Tiga Kali Sehari!
13/03/25
Berkelana dengan Lensa ala Regina Safri
08/03/25Pos Terbaru

Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu
Berita
26/03/25
Macan Dahan yang Masuk Gudang di OKU sudah Dievakuasi
Berita
26/03/25![Berpacu dengan Kepunahan [3]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742879417_fd2dc5f16700a5b9fff5.jpg)
Berpacu dengan Kepunahan [3]
Liputan Khusus
25/03/25![Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875241_b9bd802809c6c35df99a.jpg)
Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]
Liputan Khusus
25/03/25![Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875243_39937082cc8949808434.jpg)
Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]
Liputan Khusus
25/03/25
Belasan Gajah Liar Masuk Sawah, Warga Berharap ada Solusi
Berita
25/03/25
Dua Opsetan Tanduk Rusa Diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon
Berita
24/03/25
Akan Dibawa ke Pulau Jawa, 34 Burung Diamankan di Sampit
Berita
24/03/25
FATWA: Komodo Malas Merantau!
Edukasi
24/03/25
Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika
Berita
22/03/25
Buntut Konflik di Riau, Harimau Masuk Boxtrap untuk DIevakuasi
Berita
22/03/25
Teka-Teki Keberadaan Baza Hitam si Predator Cilik
Edukasi
21/03/25
Gakkum Beroperasi, Puluhan Tengkorak Satwa Liar jadi Barang Bukti
Berita
20/03/25
FOTO: Perbedaan Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera
Edukasi
19/03/25
Labi-labi Ditemukan di Pulau Bawean, BKSDA: Penting untuk Terus Dijaga
Berita
18/03/25
Sebanyak 5 Penyu Diamankan dari Penyelundupan, 1 dalam Kondisi Stres
Berita
18/03/25
FATWA: Satwa yang 'Bangkit dari Kepunahan'
Edukasi
17/03/25
BKSDA Turun Tangan Pantau Harimau yang Melintasi Kebun
Berita
17/03/25
Lima Peniaga Kulit dan Tulang Harimau Diciduk Polisi
Berita
17/03/25
Bangkai Paus Terdampar di Simeulue, Evakuasi Terkendala Kondisi Pantai
Berita
16/03/25Bacaan Populer
Baca berita terbaru seputar satwa liar di sini

1
Wajib Tahu! 13 Jenis Biawak Dilindungi di Indonesia
09/03/20
2
Pemilik Kura-kura Impor yang Ditangkap Tipidter Bareskrim Mabes Polri Dijerat UU Karantina Hewan
01/08/18
19717
3
Selundupkan Murai Batu ke Malaysia, Patrum Dihukum 3 Bulan Penjara dan Denda 100 juta
11/10/19
17131
4
5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
15/04/21
16581
5
Sering Dianggap Sama, Inilah Perbedaan Rusa dan Kijang
03/08/21
15077
6
Kenali Jenis Otter yang Tidak Boleh Dipelihara di Indonesia
10/12/20
14913
7
Kejanggalan Penangkaran Harimau Benggala Milik Alshad Ahmad
14/01/20
14371
8
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P106 Tahun 2018
30/01/19
13812
9
Kenali 4 Jenis Ikan Belida yang Dilindungi
15/03/21
12811
10
Binturong, Musang Besar yang Menjadi Spesies Kunci Ekosistem
07/12/18
12286