Lindungi Hutan dan Satwa Liar Demi Mencegah Pandemi

Gardaanimalia.com - Peringatan Hari Hidupan Liar Sedunia tahun ini mengangkat tema “Forest and Livelihoods: Sustaining People and Planet.” Tema ini mengingatkan kepada dunia bahwa kehidupan di Bumi tidak bisa lepas dari eksistensi hutan, terutama hutan tropis. Hutan tropis adalah tempat bernaung terpenting bagi kehidupan liar di Bumi. Dengan menampung sekitar 3 sampai 100 juta hewan dan tumbuhan,((FAO. 2020. State of the World’s Forests 2020. http://www.fao.org/state-of-forests/en/)) atau tidak kurang dari 50 persen spesies yang ada di darat((Butler, R. (1 April 2019). Mongabay. Why are rainforests so diverse?, https://rainforests.mongabay.com/03-diversity-of-rainforests.html)), hutan tropis adalah bioma terkaya di darat. Hutan hujan juga menyediakan sebagian besar kebutuhan dasar peradaban manusia, seperti kayu, pangan, air, hingga obat-obatan.
Sayangnya, nasib hutan beserta para penghuninya terus terancam dengan beragam aktivitas antropogenik yang tidak terkendali. Sejak tahun 1990, diperkirakan 420 juta hektar hutan tropis sudah dikonversi untuk aktivitas komersial.((FAO. 2020. State of the World’s Forests 2020, http://www.fao.org/state-of-forests/en/)) Bahkan, menurut data dari Universitas Maryland AS pada tahun 2019, hutan tropis kehilangan 11,9 juta hektar pohon dalam satu tahun, atau seluas satu lapangan sepakbola tiap enam detik.((Weisse, M; Goldman, E. (2 Juni 2020). World Resources Institute. We Lost a Football Pitch of Primary Rainforest Every 6 Seconds in 2019. https://www.wri.org/blog/2020/06/global-tree-cover-loss-data-2019)) Sekitar 137 spesies flora dan fauna hutan tropis sudah mendekati kepunahan akibat deforestasi dan kegiatan agrikultural yang masif.((Rainforest Action Network. Fact Sheet – Rainforest Animals. https://www.ran.org/fact_sheet_rainforest_animals/)) Ribuan primata dan mamalia bioma ini terus diperdagangkan secara ilegal demi pakaian, hewan peliharaan, hingga untuk subjek penelitian.((Ibid.))
Peningkatan deforestasi dan perdagangan satwa hutan hujan juga diiringi dengan tren mengerikan lainnya, yakni peningkatan pandemi virus. Diestimasikan bahwa tiap tahunnya, dua virus baru telah berpindah dari inang alaminya, yakni para satwa liar, menuju manusia, dalam satu abad terakhir.((Dobson, A; Pimm, S; Hannah,L. et al. (24 Juli 2020). Sciencemag.org . Ecology and economics for pandemic preventions. https://science.sciencemag.org/content/369/6502/379.summary)) Sejak tahun 1980-an, total wabah penyakit menular bertambah sebanyak lebih dari tiga kali lipat setiap dekade, dan dua per tiga penyakit tersebut berasal dari kehidupan liar.((ZJones, K; Patel, N et al. (21 Februari 2008). Global trends in emerging infectious diseases. Nature. https://www.nature.com/articles/nature06536)) Perjumpaan manusia dengan satwa liar menjadi penyebab utama mayoritas pandemi global, seperti HIV, Ebola, Zika, hingga COVID-19.((Doucleff, M; Greenhalg, J. (14 Februari 2017). NPR. Why Killer Viruses are On the Rise. https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/02/14/511227050/why-killer-viruses-are-on-the-rise))
Keanekaragaman hayati hutan hujan tidak hanya berlaku untuk hewan dan tumbuhan yang dapat kita lihat dengan mata telanjang, namun juga untuk makhluk-makhluk mikroskopik, termasuk virus. Hutan hujan di Afrika Barat, Amazon, dan Asia Tenggara sudah dikenal luas sebagai kantung atau hotspot virus berbahaya baru.((Allen, T; Murray, K; et al. (24 Oktober 2017). Nature Communications. Global hotspots and correlates of emerging zoonotic diseases. https://www.ecohealthalliance.org/wp-content/uploads/2017/10/s41467-017-00923-8.pdf)) Pada tahun 2017, ditemukan 48 spesies virus baru hanya di hutan hujan Borneo saja.((Doucleff, M; Greenhalg, J. (14 Februari 2017). NPR. Why Killer Viruses are On the Rise. https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/02/14/511227050/why-killer-viruses-are-on-the-rise)) Dalam 7 tahun, 1.000 virus baru ditemukan pada hutan hujan di 20 negara.((Ibid.)) Diperkirakan ada sekitar 1,67 juta spesies virus pada mamalia dan burung liar yang belum diidentifikasi dunia sains saat ini.((Carroll, D; Daszak, P & et al. (23 Februari 2018). Science. The Global Virome Project. https://science.sciencemag.org/content/359/6378/872.full?ijkey=FHQ2jxklB/dD2&keytype=ref&siteid=sci))
Baca juga: Satwa Liar Jadi Korban ‘Perang’ Manusia dengan Alam
Menurut Adalberto Luís Val, seorang biolog dari National Institute of Amazonian Research, aktivitas manusia yang terus mengusik hutan hujan beserta penghuninya, mendekatkan wilayah manusia dengan virus-virus tersebut.((Zuker, F. (19 Oktober 2020). Reuters. Next pandemic? Amazon deforestation may spark new diseases. https://www.reuters.com/article/us-brazil-disease-amazon-deforestation-t-idUSKBN2741IF)) Menurutnya, pengurangan wilayah hutan ini menimbulkan peningkatan interaksi manusia dengan spesies-spesies liar pembawa patogen seperti kelelawar, monyet, nyamuk, hingga tikus.((Ibid.)) Kate Jones, ahli ekologi dari University College of London, menyatakan bahwa sudah puluhan tahun para ahli ekologi telah memperingatkan akan peningkatan lompatan patogen dari satwa liar hutan hujan ke manusia akibat deforestasi dan kepunahan satwa habitat ini, namun hanya sedikit perhatian yang dicurahkan terhadap ancaman ini.((Tollefson, J. (7 Agustus 2020). Nature. Why deforestation and extinctions make pandemics more likely. https://www.nature.com/articles/d41586-020-02341-1#:~:text=As%20humans%20diminish%20biodiversity%20by,pandemics%20such%20as%20COVID-19.&text=Jones%20is%20one%20of%20a,use%20and%20emerging%20infectious%20diseases.))
Oleh karena itu, pemberantasan deforestasi beserta kejahatan terhadap kehidupan liar menjadi langkah-langkah yang krusial untuk mencegah pandemi di masa depan. Pada 24 Juli 2020, sebuah kelompok interdisiplin yang terdiri atas ilmuwan di bidang virologi, ekonomi, hingga ekologi, mempublikasikan sebuah esai di Science (majalah terbitan American Association for the Advancement of Science) yang meminta para pemerintah untuk mengontrol deforestasi dan perdagangan satwa liar demi mencegah kemunculan pandemi virus baru.((Dobson, A; Pimm, S; Hannah,L. et al. (24 Juli 2020). Sciencemag.org . Ecology and economics for pandemic preventions. https://science.sciencemag.org/content/369/6502/379.summary))
Vaksin bukanlah langkah terbaik manusia untuk menyelamatkan diri mereka dari cengkeraman virus. Ketika dunia sudah memproduksi vaksin untuk flu H1N1 tahun 2009 lalu, virus ini sudah menginfeksi hampir seperempat populasi manusia di seluruh dunia.((Roos, R. (24 Januari 2013). Center for Infectious Disease Research and Policy. Study puts global 2009 pandemic H1N1 infection rate at 24%.)) Meski saat ini vaksin COVID-19 sudah didistribusikan, virus ini sudah mengambil nyawa lebih dari 2,5 juta orang di seluruh dunia,((Worldometer. COVID-19 Coronavirus Updates. https://www.worldometers.info/coronavirus/)) dan akan terus menghantui umat manusia dalam jangka waktu yang lama.
Pandemi virus adalah buah pahit dari kejahatan terhadap satwa dan kehidupan hutan. Di dunia yang didominasi dengan virus ini, langkah terbaik manusia dalam menghadapi bencana ini adalah dengan memperbaiki hubungannya dengan satwa dan kehidupan liar di hutan hujan. Menyelamatkan bioma ini tidak hanya menjaga keanekaragaman hayatinya, namun juga menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Baiknya Hari Hidupan Liar Sedunia kali ini menjadi momen bagi umat manusia untuk menilik kembali segala perbuatannya terhadap hutan, sebelum virus mematikan lainnya menampakkan dirinya untuk menimpakan hukuman atas penghancuran salah satu penunjang kehidupan Bumi ini.

Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu
26/03/25
Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika
22/03/25
Amankan Monyet Peliharaan, BKSDA Jelaskan Bahaya Domestikasi Satwa Liar
15/03/25
Berang-Berang Bukan Peliharaan! Kenali 4 Jenis yang Hidup di Indonesia
14/03/25
FLIGHT: Penyelundupan Burung Kicau sudah Seperti Minum Obat, Tiga Kali Sehari!
13/03/25
Berkelana dengan Lensa ala Regina Safri
08/03/25
Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu

Macan Dahan yang Masuk Gudang di OKU sudah Dievakuasi
![Berpacu dengan Kepunahan [3]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742879417_fd2dc5f16700a5b9fff5.jpg)
Berpacu dengan Kepunahan [3]
![Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875241_b9bd802809c6c35df99a.jpg)
Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]
![Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875243_39937082cc8949808434.jpg)
Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]

Belasan Gajah Liar Masuk Sawah, Warga Berharap ada Solusi

Dua Opsetan Tanduk Rusa Diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon

Akan Dibawa ke Pulau Jawa, 34 Burung Diamankan di Sampit

FATWA: Komodo Malas Merantau!

Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika

Buntut Konflik di Riau, Harimau Masuk Boxtrap untuk DIevakuasi

Teka-Teki Keberadaan Baza Hitam si Predator Cilik

Gakkum Beroperasi, Puluhan Tengkorak Satwa Liar jadi Barang Bukti

FOTO: Perbedaan Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera

Labi-labi Ditemukan di Pulau Bawean, BKSDA: Penting untuk Terus Dijaga

Sebanyak 5 Penyu Diamankan dari Penyelundupan, 1 dalam Kondisi Stres

FATWA: Satwa yang 'Bangkit dari Kepunahan'

BKSDA Turun Tangan Pantau Harimau yang Melintasi Kebun

Lima Peniaga Kulit dan Tulang Harimau Diciduk Polisi

Bangkai Paus Terdampar di Simeulue, Evakuasi Terkendala Kondisi Pantai
