Sering Dikaitkan dengan Kematian, Kenali 8 Jenis Burung Gagak Dilindungi

3 min read
2021-07-09 13:06:56
Iklan
Belum ada deskripsim Lorem ipsum dolor sit amet, corrupti tempore omnis esse rem.



Gardaanimalia.com - Keberadaan burung gagak sering kali menandakan suasana horor dalam sebuah film atau cerita. Tak cuma itu, adanya burung gagak biasanya dikaitkan dengan mitos pembawa kabar kematian seseorang. Padahal kenyataannya beberapa jenis burung gagak yang kehidupannya justru kian terancam.

Jenis Burung Gagak yang Dilindungi di Indonesia


Burung gagak tergolong burung dengan umur yang cukup panjang. Seekor gagak bisa bertahan hingga 14 tahun. Di Indonesia, beberapa jenis gagak tergolong hewan yang dilindungi karena populasinya kian menurun dan langka. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, ada delapan jenis gagak yang masuk ke dalam daftar tersebut.

1. Burung Gagak Flores (Corvus florensis)




Burung gagak flores mempunyai tubuh berukuran panjang sekitar 40 sentimeter dan berat 175 gram. Iris matanya berwarna coklat tua, dan paruh pendeknya tertutup bulu sampai setengah bagian. Bulunya berwarna hitam keunguan dan kurang mengkilat.

Suaranya “waaa waaa” yang tinggi dan terdengar parau, diulang satu hingga tiga kali. Saat mengeluarkan suara, ekor burung dengan status konservasi terancam ini akan bergerak ke bawah, atau terkadang tubuhnya ditahan horisontal dengan kepala direndahkan dan ekor dirapatkan.

Burung endemik Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, ini termasuk burung penetap atau tidak bermigrasi. Biasanya burung ini hidup secara sendiri, berpasangan, atau terkadang dalam kelompok kecil yang beranggotakan hingga enam burung. Burung ini bersikap cenderung tampak selalu waspada dan pemalu.

Untuk habitatnya, gagak flores biasa menghuni hutan primer dan sekunder, hutan hujan tropis, hutan semi luruh-daun, kawasan bekas hutan, hingga kawasan dengan pepohonan jarang di dataran rendah hingga ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Daerah sebarannya meliputi pulau Flores bagian barat dan Rinca, Nusa Tenggara Timur.

Musim berbiak terjadi antara bulan September hingga Januari. Dalam sekali bertelur, burung iini mampu menghasilkan dua hingga tiga butir telur yang disimpan dalam sarang pada ketinggian pohon sampai dua belas meter dari permukaan tanah.

2. Burung Gagak Kepala Coklat (Corvus fuscicapillus)




Gagak kepala coklat memiliki ciri-ciri tubuh berwarna hitam mengkilap namun bagian leher, kepala, dan perut berwarna coklat. Ukuran tubuhnya sekitar 45 sentimeter dengan ekor pendek dan mengotak di ujung. Burung ini memiliki paruh yang besar melengkung, dan berwarna kuning pada ujung paruh betinanya. Iris mata berwarna biru. Burung endemik Papua ini memiliki sebaran terfragmentasi di hutan dataran rendah lembab subtropis dan hutan bakau subtropis atau tropis, di Kalimantan.

Menurut daftar merah IUCN, gagak kepala coklat termasuk dalam jenis burung yang statusnya near threatened atau hampir terancam dengan tren populasinya yang terus mengalami penurunan.

3. Burung Gagak Orru (Corvus orru)




Gagak orru atau yang bernama latin Corvus orru adalah gagak dengan sayap tumpul dan ekor pendek. Seluruh tubuhnya berwarna hitam mengkilat dengan iris mata putih sampat biru pucat. Gagak dilindungi ini memiliki panjang tubuh 48-53 sentimeter. Berat burung jantan sekitar 430-700 gram, sedangkan betinanya 430-650 gram.

Burung yang dapat dijumpai di Maluku ini memiliki status konservasi LC atau least concern. Status ini merupakan status dengan risiko rendah dan diperuntukkan untuk jenis yang telah dievaluasi informasinya namun belum memenuhi kriteria yang ada pada kategori terancam.

Populasi burung yang juga disebut gagak torrus ini menunjukkan adanya tren peningkatan. Habitatnya ialah di laut maupun darat, utamanya di hutan tropis maupun subtropis. Namun spesies ini juga cocok bertahan hidup di lingkungan seperti semak belukar, sabana, dan kawasan pasang surut laut. Gagak ini memiliki suara yang cukup jelas berbunyi “akk akk akk”.

4. Burung Gagak Rumah (Corvus splendens)




Gagak rumah atau Corvus splendens merupakan jenis gagak yang jangkauan persebarannya sangat luas. Di Indonesia, gagak dilindungi ini dapat ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Di luar itu burung ini juga tersebar di beberapa negara lain yakni Bangladesh, Bhutan, China, Hong Kong, India, Maldives, Myanmar, Nepal, Pakistan, Qatar, Singapura, Sri Lanka, dan Thailand. Disebut gagak rumah karena gagak ini sebagian besar tinggal di sekitar tempat tinggal manusia.

Baca juga: Webinar Garda Animalia Urai Fakta Tragis Perburuan dan Perdagangan Primata

Burung ini memiliki tubuh relatif kecil dan ramping dengan panjang 40-43 sentimeter dan berat 245-371 gram. Paruhnya cenderung panjang dan busurnya melengkung. Bulunya secara umum berwarna hitam dan keabuan pada sisi tengkuk hingga dada dengan iris mata coklat gelap. Status konservasinya adalah risiko rendah dan tren populasinya menunjukkan kestabilan. Suara gagak ini meyerupai bunyi “kaaa kaaa kaaa” dengan suara cenderung parau yang sangat keras.

5. Burung Gagak Kelabu (Corvus tristis)




Gagak kelabu dengan nama latin Corvus tristis memiliki panjang tubuh 51-56 sentimeter dan beratnya rata-rata 635 gram. Uniknya, terdapat sisi kepala dari gagak kelabu yang tidak berbulu sehingga menampakkan kulitnya yang berwarna merah jambu. Sedangkan, warna bulunya bervarasi dengan warna kehitaman sampai coklat tua atau abu-abu dengan karakter mengkilat pada sayap dan ekornya yang panjang. Iris matanya berwarna biru muda, paruh burungnya berwarna abu-abu, dan kaki merah jambu sampai abu-abu. Menurut IUNC, gagak kelabu berstatus least concern dengan daerah persebaran di Papua dan Papua Nugini.

6. Burung Gagak Sulawesi (Corvus typicus)




Jenis gagak yang satu ini memiliki ciri yang sangat khas dibandingkan dengan gagak lainnya yakni warna bulunya putih di bagian tengkuk bawah, punggung atas, dan tubuh bawah sampai perut. Sedangkan bagian lainnya berwarna abu-biru mengkilat dan di bagian perut bawahnya berwarna coklat keabu-hitaman. Warna irisnya merah-coklat.

Ukuran tubuhnya berkisar 35-40 sentimeter dengan berat 175 gram. Gagak sulawesi memiliki daerah distribusi di hutan Pulau Sulawesi. Meski status konservasi least concern, namun tren populasinya cenderung menurun. Burung ini biasanya ditemukan dalam kelompok kecil atau hanya berpasangan. Suaranya berupa panggilan keras yang mencolok, seperti pekikan, peluit, atau siulan yang agak berbeda daripada jenis gagak pada umumnya.

7. Burung Gagak Banggai (Corvus unicolor)




Spesies ini tergolong gagak bertubuh kecil. Panjang tubuh hanya sekitar 40 sentimeter dan berat 175 gram. Bulu dan kaki gagak banggai berwarna hitam dan iris keabuan dengan ekor pendek. Kicauannya terdengar seperti bunyi “whee-kew-kwekew” yang berlangsung sekitar 2-3 detik.

Burung ini sempat dinyatakan punah hingga akhirnya ditemukan kembali pada survei di pulau Peleng tahun 2007. Distribusi burung ini adalah di Pulau Banggai, Sulawesi, dengan status konservasi critically endangered dan tren populasinya terus menunjukkan penurunan. Habitatnya adalah kawasan hutan dan karst.

Kategori critically endangered ini diperuntukkan untuk jenis hewan yang dinyatakan memenuhi kriteria menuju kepunahan dan tengah menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar dengan tingkat yang lebih ekstrem disebabkan hilangnya habitat.

Pada 2018, pemerintah dan DPRD Kabupaten Banggai Kepulauan Bangkep di Sulawesi Tengah telah membuat Peraturan Daerah Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst untuk menjaga kelestarian 13 spesies endemik terancam punah, termasuk burung banggai.

8. Burung Gagak Halmahera (Corvus validus)




Jenis gagak dilindungi berikutnya adalah gagak halmahera. Burung yang ukuran tubuhnya relatif besar ini panjangnya bisa mencapai 46-53 sentimeter dengan berat 300 gram. Paruhnya panjang berwarna hitam, karena itu ia disebut juga long billed crow. Ekornya relatif pendek dan mengotak di bagian ujung. Warna bulu gagak halmahera dewasa secara umum adalah hitam, namun bagian atasnya berwarna ungu mengkilat, kepala biru-baja mengkilat, tenggorokan (bagian leher) hijau, tubuh bawah hitam kusam. Suaranya berbunyi seperti “krak krak krak”.

Agak berbeda dari gagak dewasa, gagak halmahera remaja berbulu kurang mengkilap dan bermata gelap. Matanya menonjol dan memiliki iris putih kebiruan. IUCN menetapkan burung yang persebarannya ada di Maluku dengan status near threatened. Tren populasinya terus menurun.

Tags :
Gagak dilindungi Gagak Halmahera Gagak Sulawesi Gagak Flores Burung gagak
Writer: