Kodok Merah, Satu-satunya Amfibi Dilindungi di Indonesia

Gardaanimalia.com - Halo! perkenalkan, aku Kodok darah. Eiits, Jangan mengkerut gitu dahinya. Aku tak seseram namaku kok. Sebenarnya itu nama lain dari banyaknya sebutan untuk diriku, ada yang manggil aku kodok merah, atau dalam bahasa Inggris aku juga disebut bleeding toad atau fire toad. Banyaknya sebutan untuk diriku ini karena memang morfologiku yang punya totol-totol berwarna merah darah di tubuhku. Tidak heran makanya namaku jadi seram.
Makin penasaran kan siapa aku? Aku adalah bangsa amfibi yang berasal dari ordo Anura. Nah, aku ini kodok. Ingat ya kodok bukan katak. Eh tau gak sih apa beda kodok sama katak? Sini aku kasih tau lagi.
Sebenarnya katak dan kodok ini sama-sama ordo Anura. Kami kerabat dekat tapi sebenarnya kami ini berbeda. Ibarat kata serupa tapi tak sama. Beberapa poin penting perbedaan kami adalah aku itu kulitnya kasar beda dengan katak yang halus. Kalau soal lompat katak juga lebih jauh jangkauannya dari aku karena dia punya kaki belakang dengan tungkai yang panjang sedangkan aku pendek jad lompatku juga dekat. Lalu, telurku juga beda dengan katak.
Kalian yang waktu kecil dulu sering mainin telurku di kolam untuk mainan pasti tau, telurku panjang kayak benang. Beda dengan katak yang telurnya bergerombol. Nah, gimana udah tau kan apa beda aku dengan katak?
Oke, sekarang kita kembali lagi kepada kisahku. Orang luar biasanya akrab dengan nama latinku yaitu Leptophryne cruentata. Tubuhku kecil dan ramping. Aku suka berada di tepian sungai dengan aliran yang lambat. Aku ini hewan nokturnal, jadi aku banyak melakukan aktivitas di malam hari dan umumnya aku hidup di permukaan tanah (terestrial).
Oh iya temen-temen, kalian tau tidak? Tersirat kabar dari saudara-saudaraku, berdasakan daftar merah IUCN kini statusku kritis (Critically Endangered) yang berarti satu langkah lagi aku akan punah dan meninggalkan kalian. Banyak faktor yang mendorong kritisnya keberadaanku di alam, salah satunya karena maraknya degradasi habitat. Apalagi aku dan saudaraku sesama amfibi mendiami habitat spesifik yang sangat sesitif terhadap perubahan alam contohnya pada perairan. Ini karena di sanalah para kodok dan katak akan meletakkan telur-telur mereka.
Baca juga: Mengenal Jalak Bali, Maskot Pulau Dewata
Kalian sedih tidak mendengar kisahku? Sama aku juga teramat sedih pada diriku. Aku memang endemik Indonesia. Aku hanya dijumpai di sekitar Gunung Gede yaitu di daerah Cibeureum dan di Kawasan Gunung Halimun. Persebaranku di Jawa Barat sangat terbatas di beberapa lokasi tertentu saja. Di Indonesia, aku satu-satunya jenis amfibi yang dilindungi loh!
Sedih ya? Tapi tunggu dulu, ada kabar baik yang akan aku sampaikan juga pada kalian. Beberapa waktu lalu sekitar tanggal 3 Juni 2020, setelah adanya penutupan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sejak bulan Maret yang diakibatkan pandemi Covid 19, ternyata aku berhasil ditemukan dan sempat terabadikan kembali oleh para volunteer dan tim survei balai TNGHS.
Catatan terakhir, katanya aku ditemukan pada tahun 2015 lalu di lokasi yang sama, lama banget ya aku menghilang. Waaah, seneng gak? Dan tidak hanya aku, beberapa temanku yang sulit dijumpai karena adanya aktivitas pengunjung sebelumnya juga muncul dan terlihat kembali seperti owa jawa dan macan tutul. Semoga ini bukan terakhir kalinya lagi aku ditemukan dan bisa menjadi awal lestarinya jenis kami di alam.
Kalian tau tidak kenapa kami sangat rentan terhadap perubahan habitat? Ini karena, kami mendiami habitat spesifik yang sangat sesitif terhadap perubahan. Kami tak dapat terpisahkan dari perairan kerena di sanalah kami akan meletakkan telur-telur kami.
Oh iya, bagi sebagian orang aku dan saudaraku katak memang terlihat menjijikan ya. Tapi kalian jangan lupakan kami yang kecil ini ya. Karena walaupun kami menggelikan dan sifat kami yag sangat sensitif menjadikan kami sebagai indikator terjaganya suatu ekosistem di alam.
Jangan lupakan kami ya. Sekedar informasi Indonesia itu merupakan negara kedua loh dengan keanekaragaman amfibi yang tinggi setelah Brazil. Seharusnya kita harus bangga apalagi kalian punya aku si kodok darah. Semoga di lain kesempatan kalian bisa bertemu kembali dengan ku di alam. Salam lestari! Dari aku si kodok darah.

TNI AL Gagalkan Upaya Penyelundupan Satwa Liar di Selat Malaka
05/03/25
Kelana Sanggabuana, Memantau Burung Migrasi dari Utara Bumi
31/10/24
2 WN Thailand Diringkus di Krabi, Usai Selundupkan Satwa dari Indonesia
20/09/24
Beruang Madu Pincang Muncul di Permukiman, BBKSDA Riau Pasang Perangkap!
17/09/24
Ratusan Satwa Liar Diamankan di Perbatasan Papua Nugini
10/07/24
Orang Dalam Diduga Bantu Perburuan Badak Jawa
06/07/24
Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu

Macan Dahan yang Masuk Gudang di OKU sudah Dievakuasi
![Berpacu dengan Kepunahan [3]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742879417_fd2dc5f16700a5b9fff5.jpg)
Berpacu dengan Kepunahan [3]
![Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875241_b9bd802809c6c35df99a.jpg)
Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]
![Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875243_39937082cc8949808434.jpg)
Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]

Belasan Gajah Liar Masuk Sawah, Warga Berharap ada Solusi

Dua Opsetan Tanduk Rusa Diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon

Akan Dibawa ke Pulau Jawa, 34 Burung Diamankan di Sampit

FATWA: Komodo Malas Merantau!

Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika

Buntut Konflik di Riau, Harimau Masuk Boxtrap untuk DIevakuasi

Teka-Teki Keberadaan Baza Hitam si Predator Cilik

Gakkum Beroperasi, Puluhan Tengkorak Satwa Liar jadi Barang Bukti

FOTO: Perbedaan Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera

Labi-labi Ditemukan di Pulau Bawean, BKSDA: Penting untuk Terus Dijaga

Sebanyak 5 Penyu Diamankan dari Penyelundupan, 1 dalam Kondisi Stres

FATWA: Satwa yang 'Bangkit dari Kepunahan'

BKSDA Turun Tangan Pantau Harimau yang Melintasi Kebun

Lima Peniaga Kulit dan Tulang Harimau Diciduk Polisi

Bangkai Paus Terdampar di Simeulue, Evakuasi Terkendala Kondisi Pantai
